Tampilkan postingan dengan label kehidupan di jepang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kehidupan di jepang. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 November 2015

Kesadaran Jepang





      Tidak dapat dipungkiri bahwa Jepang adalah Negara maju yang dibangun oleh masyarakat dengan SDM yang baik. Ketika menemukan sebuah ide dan inovasi, mereka tidak sekedar berfikir bagaimana cara memanfatkan dan mengembangkan ide tersebut, akan tetapi memikirkan metode menanggulangi kemungkinan dampak negatif yang bisa ditimbulkan oleh inovasi tersebut. Dengan kata lain,  mereka juga memperhatikan ancaman dan keselamatan  dari inovasi yang ditimbulkan. Sehingga Jepang dikenal tidak hanya sebagai Negara inovatif, namun juga dinobatkan sebagai salah satu negara dengan tingkat preventif tertinggi di dunia.

      Jika berbicara arti kesadaran dari segi  stabilitas keamanan, di  Jepang baik laki-laki dan perempuan tidak perlu merasa was-was ketika berjalan pulang sendirian tengah malam  dari tempat kerja, karena tingkat kriminalitas yang sangat rendah sebagai  dampak positif  kemajuan ekonomi.  Contohnya, berita kriminalitas adalah segmen  yang sangat jarang dijumpai di media massa baik koran maupun televisi. Karena luar biasa langkanya kejadian kriminalitas, seperti pembunuhan, kecelakaan dan pencurian maka kejadian kriminalitas yang terpapar oleh Media Massa akan menjadi berita hangat yang diulang-ulang di setiap segmen berita televisi selama berhari-hari.  Kasus yang agak berlebihan akibat kekurangan bahan berita di Jepang  adalah, pernah diberitakannya peristiwa bahwa seorang kakek tewas akibat terjatuh dari pohon di pekarangan rumahnya. Coba bandingkan dengan berita- berita di Indonesia yang  setiap hari menjejali  kita dengan berita kriminal, politik, ekonomi, SARA, korupsi secara up to date di  berbagai saluran televisi sampai kita kenyang dan muak melihat kebobrokan realitas yang terjadi silih berganti. Namun, meskipun orang Jepang memiliki  tingkat keamanan yang tinggi, Masyarakat Jepang tidak lantas menganggap enteng masalah keselamatan mereka. Masyarakat Jepang pada umumnya sadar akan arti sebuah keselamatan bahwa tindakan mencegah lebih baik daripada menanggulangi.  Contohnya setiap pintu utama sebuah rumah dilengkapi oleh kamera dan speaker  interkom untuk mengetahui siapa tamu sebelum mebukanya, atau pihak sekolah yang dipayungi oleh kementrian terkait mewajibkan para orang tua untuk memfasilitasi anak-anak mereka dengan alat keamanan. Contohnya, setiap tas sekolah TK dan SD dilengkapi dengan alarm keselamatan, sehingga melindungi mereka dari ancaman kriminalitas. Pada umumnya Anak-anak TK dan SD  berjalan kaki menuju sekolah atau pulang sekolah secara berkelompok, mereka menyusuri trotoar dan melintasi jalan besar tanpa dipandu oleh orang dewasa. Dengan kelucuannya, tentu mereka terlihat sangat menggemaskan di mata orang-orang asing atau bagi siapa saja yang melihat aktivitas mereka. Kadang timbul keinginan sekedar ingin menyapa mereka, atau sesekali mencolek pipi-pipi yang montok sebagai bentuk rasa gemas yang sewajarnya. Namun niat baik tidak selalu disambut dengan positif di Jepang. Anak-anak di Jepang  selalu diajarkan untuk bersikap waspada dan menarik dari dari apapun yang berifat asing jika tidak didampingi oleh orang dewasa yang sudah dikenal seperti keluarga dan guru. Sehingga niat untuk sekedar menyapa wajah-wajah lucu tersebut saya urungkan mengingat fasilitas keamanan yang terpasang di peralatan sekolah mereka. Jadi, bila kamu meliat anak-anak Jepang yang lucu di jalan, sebaiknya hindari  mendekati mereka jika tidak mau menemui masalah. Contoh  kongkrit alat keamanan itu adalah  seperti peluit atau alarm tenaga bateray yang akan terdengar sampai radius beberapa meter jika mereka menekan alarm tersebut sebagai bentuk dari sebuah ancaman.  Hal yang lebih menggelikan lagi adalah terpasangnya alarm yang ada di toilet-toilet umum. Pengalaman memalukan pernah saya alami sekali karena rasa ingin tau yang sangat besar. Ketika sedang menggunakan toilet yang ada di perpustakaan kampus, saya penasaran untuk menarik suatu benda yang ternyata sebuah alarm pertolongan kecelakaan di dalam toilet. Sontak bunyi alarm yang memekakkan telinga tersebut segera saya sadari, dan cepat-cepat saya kembalikan ke posisi semula sehingga tidak sempat mengundang  perhatian sekeliling.  Hal-hal tersebut adalah contoh bentuk dari tindakan prefentif warga Jepang.
           Jika menengok dari segi   kesadaran lingkungan, Warga Jepang terkenal sebagai bangsa yang gemar sekali menjaga lingkungan dari hal yang besar sampai dengan hal yang terlihat sepele. Contohnya, Kita tentu sangat dekat dengan penggunaan minyak goreng sebagai salah satu bahan pokok dari sembilan bahan pokok di Indonesia. Hal itu dipengaruhi oleh kultur masakan Indonesia yang beragam dan sebagian besar dihidangkan  lewat proses penggorengan. Betul sekali, minyak goreng adalah komoditi utama di Indonesia setelah beras dan  gula. Kepopuleran minyak goreng di Indonesia menjadikan minyak goreng sebagai barang vital, primadona kuliner.  Sehingga Minyak goreng dipoduksi secara massive layaknya memproduksi beras. Sampai-sampai ribuan hektar hutan  menjadi korban keganasan  para kapitalis industri minyak goreng di  Indonesia. Yang paling menyedihkan,   dampak pembakaran tersebut memaksa hutan-hutan tidak mampu lagi menghasilkan oksigen, sebaliknya malah menghasilkan polusi udara yang mengancam jiwa jutaan mahluk hidup baik manusia dan hewan-hewan yang dilindungi dan lemah. Terlepas dari katastropi asap yang diakibatkan oleh hutan yang dijadikan tumbal para kapitalis tersebut, penanggulangan limbah minyak goreng di Indonesia menjadi hal yang diacuhkan baik oleh pemerintah Indonesia maupun oleh masyarakat Indonesia secara individu. Bila menengok ke Jepang, betapa Negara Jepang begitu memperhatikan dampak kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh minyak goreng. Jika di Indonesia, umumnya warga kita membuang limbah minyak goreng di sembarang saluran pembuangan air, maka tidak begitu halnya dengan orang Jepang. Di Jepang peraturan yang berlaku adalah dilarang membuang limbah minyak goreng di saluran pembuangan air atau got. Mengapa mereka harus membuang limbah minyak goreng  sesuai prosedur?. Karena minyak dapat menyebabkan pencemaran pada tanah, selain itu minyak bisa  menggumpal atau membeku  di saluran pipa pembuangan air sehingga menyebabkan saluran pipa tersumbat ketika musim dingin tiba.  Lalu, kemana mereka harus membuang limbah minyak goreng?. Berikut ini adalah beberapa cara membuang minyak goreng sesuai prosedur keamanan di Jepang:
1.  Membuang limbah minyak goreng dengan obat oil solidfier(油固め剤)
Cara kerja oil solidifier tersebut adalah dengan membekukan atau memadatkan minyak yang  masih cair. Sebelum dibuang, minyak goreng bekas pakai yang masih panas atau hangat cukup  dengan ditaburi dengan bubuk obat tersebut. Setelah didiamkan beberapa saat, minyak tersebut akan berubah wujud menjadi padat atau kristal atau menggumpal. Setelah itu, barulah minyak boleh dibuang di sampah kategori sampah terbakar. Karena pada dasarnya minyak adalah zat yang mudah terbakar maka dikategorikan  kedalam sampah terbakar.
2.  Limbah Minyak diserap dahulu dengan kertas atau koran tidak terpakai, kemudian dipilah ke sampah terbakar.
3.  Cara yang terakhir ini adalah cara yang mungkin  paling mengharukan bagi warga asing.  Mengapa dikatakan mengharukan? Tak lain karena betapa baik dan besarnya perhatian pemerintah Jepang dalam memikirkan kelestarian lingkungan. Pemerintah Jepang tidak serta merta mengeluarkan peraturan, namun juga memberikan solusinya. Beberapa supermarket tidak hanya  memberikan pelayanan air sehat bagi warganya, atau memenyediakan tempat daur ulang  styreofoam (wadah makanan, maaf jika ejaan kurang tepat),  tapi juga memberikan pelayanan berupa menyediakan wadah  pembuangan limbah minyak goreng pada waktu-waktu tertentu, sehingga warga lingkungan di supermarket setempat boleh membuang limbah tersebut secara gratis sambil lewat berbelanja. 






Bagaimana?, menarik bukan?. Jika Jepang yang notabene adalah non muslim saja bisa menjaga lingkungan, dan  memperhatikan kelestarian lingkungan, lantas mengapa kita sebagai warga Negara Indonesia yang kabarnya memiliki populasi muslim terbesar di dunia  ini belum mampu  menjaga lingkungan sebagaimana seharusnya? Padahal berulang-ulang Allah SWT telah  menyuruh manusia untuk tidak merusak alam sebagaimana  yang tertuang pada banyak ayat di dalam  Al Quran.  “ Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik  (QS. Al. A’raf: 56). “Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan” (QS. AL-Baqorah :11).

Kamis, 04 September 2014

Menjadi Pribadi yang Bermanfaat


    Setiap hari orang  Jepang harus bekerja selama 7 hingga 8 jam, dari pukul 9 pagi hingga pukul 5 sore, dari hari Senin sampai hari Jumat.  Pada kenyataannya, lamanya 8 jam kerja tersebut belum termasuk jam lembur. Bila diamati, 8 jam kerja dalam sehari di Jepang sama dengan besarnya jumlah jam kerja di Indonesia, khususnya staff kantor swasta dan staff PNS. Bedanya, bila di Jepang, seseorang merasa sungkan  bila meninggalkan tempat kerja paling awal daripada rekan-rekan kerja lainnya, meskipun jam  kerja pada saat itu sudah selesai.  Sehingga mereka akan menahan diri untuk meninggalkan tempat kerja lebih awal dari rekan atau atasan mereka. Sifat tenggang rasa dan “pekewoh” dalam diri mereka menimbukan sifat rasa malu untuk berbeda dari yang lain. Dengan tidak meninggalkan tempat kerja lebih awal, mereka dengan “legowo” meneruskan pekerjaan mereka, atau membantu rekan kerja mereka hingga sebagian besar karyawan menyelesaikan tugas masing-masing. Setelah bersama-sama menyelesaikan tugas di meja kerja, lantas mereka tidak langsung pulang dan beristirahat di rumah. Ada kalanya  mereka  melakukan sosialisasi dengan sesama rekan kerja atau kolega untuk saling  mengenal satu sama lain setelah seharian atau sepanjang minggu bersikap kaku berkutat di lingkungan kerja. Karena di Jepang menganut prinsip sikap  profesional dalam bekerja. Artinya, bahwa ketika bekerja, curahkan seluruh pikiran dan tenaga untuk pekerjaan, dan menghindari hal-hal yang tidak berguna, seperti bergosip, atau bahkan sekedar untuk membaca koran.

       Batas akhir usia bekerja rata-rata 55 tahun dan 60 tahun, kurang lebih sama dengan di Indonesia. Setelah mereka pensiun dari pekerjaan lama, tidak lantas mereka hanya berdiam diri di rumah menikmati hari tua. Meskipun setiap bulan mereka rutin menerima uang pensiun dari pemerintah bagi PNS atau dari asuransi pensiun yang mereka bayar rutin selama masa muda mereka, ternyata tidak sedikit dari lansia di atas usia 60 tahun tetap  meneruskan untuk bekerja. Tentunya jenis pekerjaan lanjutan itu bukan merupakan pekerjaan tetap. Pada umumnya pekerjaan yang mereka lakukan adalah pekerjaan paruh waktu atau honor. Jenis pekerjaan paruh waktu tersebut bisa di bidang apa saja, asal tidak berhubungan dengan 3 K , yakni : Kitsui (Pekerjaan yang berat, melelahkan, menyengsarakan), Kitanai (seperti pekerjaan kotor mafia, kriminal), dan kiken ( berbahaya, besar resikonya).   Selama  tidak menyangkut 3 K tersebut, para lansia Jepang merasa tidak malu untuk melanjutkan kerja paruh waktu, seperti pelayan resoran atau toko, sampai Cleaning Service. Mereka tidak sungkan untuk melakukan pekerjaan tersebut meski dulu mereka adalah seorang karyawan kantor.  Prinsip mereka dalam bekerja adalah, supaya sisa usia mereka dapat bermanfaat sebaik-baiknya. Bahkan tentunya mereka masih bisa mengumpulkan uang dari jerih payah mereka. Selain itu bekerja bukan semata untuk memperoleh materi, tapi terdapat kepuasan batin ketika  merasakan diri mereka masih bermanfaat, juga selain dapat bergabung di komunitas sosial yang baru. Mereka terlihat tetap  ingin mandiri walau telah memasuki usia pensiun. Ketika saya sedang berbelanja di supermarket atau sekedar jalan-jalan cuci mata di pusat perbelanjaan dan mall, pemandangan di mana nenek-nenek usia 70-an sedang berjalan sendiri sambil menarik tas  belanja dorong mereka tidak sedikit dijumpai. Nenek-nenek atau kakek-kakek yang menggendong ransel belanja tanpa didampingi keluarga adalah pemandangan yang umum di sana. Ada kesan bahwa mereka  masih mampu sendiri dan tidak mau merepotkan keluarga.

  Data statistik tahun 2012 yang dikumpulkanmelalui Kementrian Kesejahteraan  dan Sosial Jepang menunjukkan  bahwa usia harapan hidup di Jepang  menduduki peringkat nomor 1 di dunia. Rata-rata usia harapan hidup di Jepang antara 79, 94 tahun bagi laki-laki, dan 86, 41 tahun bagi perempuan. Maka usia 60 tahun sebenarnya bagi mereka bukanlah usian yang dianggap terlalu tua, sebagai manusia lemah dan patut dikasihani.  Mereka merasa usia 60 tahun adalah usia di mana segala sesuatu diawali lagi, menemukan hal-hal baru. Bagi mereka yang tidak ingin bekerja lagi setelah memasuki usia 60 tahun, mereka bergabung sebagai  sukarelawan dalam bidang sosial dan pendidikan. Suatu hari Saya pernah mendengar cerita yang sangat menarik, bahwa di suatu sudut kota ada seorang nenek berusia sangat tua. Setiap hari ia hanya berdiri di  bawah lampu rambu-rambu lalu lintas. Entah apa yang ia kerjakan hanya dengan berdiri di sana. Ternyata setelah diselidik, ia hanya ingin merasa dirinya bermanfaat bagi orang lain meski sebatas mampu berdiri seharian di sudut lampu rambu lalu lintas!. Betapa orang Jepang ingin merasa dirinya dapat melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, meski hanya dilirik dan dilalui orang.  Sejujurnya saya sedikit menyangsikan kebenaran cerita tersebut, karena saya tidak pernah bertemu dengan orang yang dibicarakan itu secara langsung. kabarnya, banyak dari sukarelawan berani mati yang mendedikasikan diri mereka untuk turut berusaha menghentikan kebocoran reaktor nuklir Fukusima akibat gempa dan tsunami yang melanda prefektur Fukushima tahun 2010 adalah para lansia yakni kakek-kakek. Mereka dengan berani mengorbankan nyawa terkena resiko terpapar bahaya radiasi nuklir demi menyelamatkan Jepang saat itu. Setelah terlebih dahulu berpamitan kepada keluarga. Kisah lengkap tentang sikap heroik mereka lebih mengharukan lagi.

     Beberapa hari sebelum kepulangan saya ke tanah air, ketika saya sedang menyusuri  jalan sekitar  kampus,  secara kebetulan saya melihat seorang nenek renta, mungkin usianya sekitar 90-an. Ia berjalan dengan sebilah tongkat. Tampak sekali ia sudah kepayahan untuk berjalan karena sudah bungkuk.  Saya amati dari kejauhan perilakunya yang berjalan bungkuk dengan tongkat tuanya dengan sesekali duduk berjongkok. Awalnya saya berpikir bahwa ia sedang berjalan-jalan menikmati udara sore yang segar, merasa lelah setelah beberapa langkah berjalan, lalu duduk berjongkok. Karena terbawa rasa penasaran, lalu saya dan teman saya berjalan agak cepat mendekat nenek renta tersebut yang berdiri di seberang kami berdua di tepi pagar kampus. Ternyata pemandangan yang menyentuh kalbu ditemui di sana. Nenek renta tersebut tidak semata-mata hanya berjalan-jalan menghirup udara segar di sore hari itu, tapi ia tengah berusaha membuat dirinya bermanfaat bagi lingkungan sekitar.  Hal yang ia lakukan adalah sekedar mencabuti rumput-rumput liar yang tumbuh di tepian pagar kampus!.  Rasa kagum saya kepada nenek renta tersebut tidak mengalahkan rasa hormat saya kepada beliau. Meskipun apan yang dilakukannya bila dipandang sepele sebelah mata dan  terasa tidak berarti, karena   area kampus tersebut sangatlah luas dengan dikelilingi pagar. Maka di sepanjang pagar kampus itu, rumput liar kering tumbuh dengan leluasa. Namun nenek renta tersebut telah membuktikan bahwa dirinya yang renta dengan jalan terseok mampu membuktikan bahwa dirinya masih terlihat bugar dan berguna meskipun sebatas hanya mencabuti rumput liar yang kering satu-persatu, meskipun rasanya tidak mungkin bahwa nenek tersebut mampu mencabuti seluruh rumput liar kering yang tumbuh di seluruh pinggiran pagar kampus yang luas itu. Dari apa yang saya lihat, saya  telah membuktikan dengan mata kepala sendiri bahwa betapa orang  Jepang ingin di sepanjang hidupnya melakukan hal-hal yang berguna. Bukan memposisikan dirinya sebagai lansia lemah yang hanya bisa berbaring di rumah.


Seorang nenek yang saya lihat  di pinggir pagar kampus Akita

     Secara mayoritas,  orang Jepang bukan muslim. Namun justru mereka telah mengamalkan nilai-nilai Islam tanpa mengenal Islam itu sendiri. Padahal Rasulullah Shalallahu’Alaihi Wasallam  di dalam hadistnya, salah satu syarat untuk menjadi manusia yang baik di  antara manusia lainnya adalah dengan menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya:

“ Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.”
(HR. Ahmad, Thabrani, Daruqutni.disahihkan Al Bani dalam As-Silsilah As-Sahihah)


Sekarang, di sisa usia kita, maanfaat apa yang telah kita bawa untuk keluarga, negara dan agama?
Sudah banggakah kita dengan sekelumit hal yang dilakukan selama ini?
Mari berintropeksi.

 

Selasa, 04 Februari 2014

Pulang Kampung, Bagian I (Harajuku, Omotesando)

      Tepat ketika saya menulis blog ini, seharusnya saya sedang menyelesaikan laporan akhir, atau berusaha  tidur sejenak demi menabung energi, mengingat mood untuk menyelesaikan laporan tidak kunjung datang juga. Maka laporan saya kerjakan esok pagi atau menjelang siang saja.Begitulah rencana sebenarnya. Tapi cita2 itu gagal karena entah kenapa pikiran ini maunya bernostalgia mengenang hari-hari selama pulang kampung ke Chiba 2 hari yang lalu.

yup, Minggu lalu, tepatnya sejak Jum'at pagi sampai  Minggu malam saya mudik ke kota chiba, kota di mana beribu kenangan manis tersemai beberapa tahun lalu yang kala itu saya masih seorang mahasiswi pertukaran, masih manis, masih lucu-lucunya, lugu, dan suka semau-maunya.

      Sebenarnya Rencana awal saya cuma mau ke tokyo 1 hari untuk berbelanja oleh-oleh sebelum pulang ke Indonesia sebentar lagi, tapi Allah berkehendak lain. Rencana-Nya ternyata lebih manis daripada rencana saya. Sayabat lama saya yang berdomisili di Chiba, Miki dan Tom mengundang saya untuk melewatkan beberapa hari di Chiba. Tom dan miki adalah orang aseli Jepang. Bagi saya mereka bukan sekedar sahabat lama, tapi sudah seperti kakak,saudara,keluarga bagi saya di Jepang. Saya dipersilahkan bermalam di rumah mereka selama beberapa hari.

      Hari pertama adalah hari pertemuan saya dengan Miki di Harajuku, tepatnya di jalan Takeshita ( Harajuku adalah pusat Shopping dan pusat trend anak muda di Tokyo, bahkan seantero Jepang dengan harga kaki lima. Mungkin bila disejajarkan dengan Indonesia seperti Bandung, atau ibarat Malioboronya Yogyakarta).  

      Setelah puas  berkeliling di Sepanjang jalan Takeshita, dan tak terhitung berapa buah toko sepatu dan butik pakaian kami kunjungi  demi mendapatkan ukuran sepatu  kaki Cinderella, tapi tidak juga menemukan pangerannya  yang cocok di kaki, akhirnya kami pun menyerah. Maklum ukuran kaki saya untuk standar ukuran Jepang 21.5. Jadi waktu coba di Toko A, ukuran 22 terlalu longgar, Ke Toko B (Diana yang notabene Brand Jepang, dengan harga yang Wow fantastis, yang walaupun discount 60 % tetep aja seperti gak didiscount) mencoba ukuran 21.5 olala ternyata terlalu sempit di kaki,   sedangkan Standar ukuran di Indonesia 35. Begitu cross check ke boutiqu Brand Singapura, ternyata di bawah 34. Bener-bener capek deehhh. Nostalgia kami dilanjutkan di kedai Ten'ya yaitu kedai Tempura  yang memiliki kedai cabang luas, namun sayangnya tidak ditemukan di Akita. Sambil menikmati semangkuk tempura, cerita  curhat tak henti-hentinya saling bersahutan. Rasa tempura kala itu masih sama seperti Tempura yang kami nikmati beberapa tahun silam.







      Harajuku terhubung dengan Omotesando yang masih sebagai pusat shopping dan wisata. Nostalgia berlanjut ke area Omotesando tanpa perencanaan sebelumnya. Semua mengalir seperti kenangan beberapa tahun silam bersama saya dan Miki. Berjalan di sepanjang jalan Omotensando seperti benar-benar kembali masuk ke masa silam itu. Saya dan Miki memasuki kios cinderamata yang menjual berbagai barang khas Jepang, seperti T-shirt khas huruf Jepang, tas, dompet, miniatur pedang, mainan,dll.Tanpa sengaja mata saya tertuju pada lipatan T-shirt khas tulisan Jepang. Ternyata jika dibandigkan dengan harga T-Shirt di Asakusa, T-shirt di kios itu jauh lebih murah dengan kualitas yang sama. Hampir saja saya nekat pergi ke Asakusa untuk  mendapatkan barang yang sama. Alhamdulillah 1 lagi rencana Indah Allah  yang saya rasakan di hari itu.

 Satu lagi yang saya rasakan keunikan akan  Kios Oriental Basaar adalah arsitektur bangunannya yang menyerupai sebuah kuil (otera). Miki bilang kalau kios ini sudah berdiri sejak akhir masa perang Dunia II. Sejak usai perang banyak tentara Asing dan kaum ekspatriat berkunjung di Jepang, sehingga kios  itu sengaja didirikan untuk memenuhi keinginan pelanggan asing yang berburu oleh-oleh, khususnya oleh-oleh khas Jepang. Sejauh ini, pengunjung yang terlihat memang pengunjung asing termasuk saya. Harga yang dipasang jauh lebih murah dibanding kios-kios yang serupa.
Berpose di depan kios


Miki juga dipaksa ikutan berpose^^
Omotesando tempo dulu


Time flies


Jadul saya


Jadul Miki
 Dan kehasan Jalan di Omotedando terlihat pada bangku besi sepanjang jalan


      Setelah capek mengelilingi Omotesando dan Harajuku, petualangan dan nostalgia kami ditutup di Shibuya. Sebenarnya mampir di Shibuya hanya untuk numpang sholat di Mushola mengingat Harajuka dan Omotesando telah melenakan waktu saya. Sebagai seorang musafir, Jamak qosor waktu Dhuhur -Ashar pun  saya pilih diujung waktu. Akhirnya setelah menunaikan kewajiban tersebut, kami harus buru-buru ke Nihonbashi untuk mengejar bis menuju ke Chiba. Petualangan satu hari singkat itu pun ditutup dengan senyum kemenangan mengingat keesokan hari adalah hari Sabtu dan minggu yang berarti petualang Mudik masih panjang ^0^.