kira-kira 3 atau 4 bulan yang lalu saya dan teman-teman satu kerja
diundang oleh salah seorang teman ke acara akikah anaknya. Perjalanan
lancar dari tempat kerja ke rumahnya memakan waktu hampir 3 jam dengan
mobil pribadi milik teman. Walau perjalanan yang kami tempuh cukup jauh
dan empet-empetan, tapi karena selama banyak diisi dengan senda gurau
maka 3 jam perjalanan itupun menjadi tidak terasa melelahkan. Ditambah
lagi, sepanjang perjalanan, mata kami dimanjakan oleh pemandangan alam
yang indah dari sisi kiri dan kanan jalan.
Jalanan kala
itu tidak terlalu dipadati kendaraan-kendaraan lain. Hanya ada beberapa
truk besar sarat muatan di depan mobil yang kami tumpangi. Susasana
begitu menyenagkan layaknya seperti sebuah perjalanan menuju daerah
puncak. Namun tiba-tiba laju mobil yang kami tumpangi menjadi lambat. Di
depan mobil itu ada kerumunan yang menjadi penyebab lambatnya laju
mobil. Rasa penasaran menyeruak ke seluruh penumpang mobil, " ada apakah
gerangan di depan sana?".
Tak disangka-sangka dari arah
depan mobil kami, beberapa laki-laki ( 4 atau 6 orang) tampak menggotong
seorang ibu berkisar usia 50-an dan melintas tepat di samping mobil
kami. Entah akan ke mana mereka gotong ibu-ibu tersebut. Jelas sekali
kami semua dapat melihat kondisi tersebut dari dalam mobil kami karena
orang-orang tadi melewati samping mobil kami. Tapi yang paling
mengagetkan adalah ibu tadi digotong dengan kondisi darah segar mengalir
dari mulutnya. Bahkan saya sempat melihat ceceran darah di jalan bekas
dilaluinya. Mobil kami terus melaju dengan lambat. Tak jauh dari situ
kira-kira 3-5 meter melaju, Krumunan terlihat di sebuah warung. Tampak 3
orang remaja berseragam SMA duduk jongkok di depan pintu warung. Wajah
mereka tampak ketakutan dan ekspresi menagis tertangkap dari raut wajah
mereka. Kala itu saya dengan jiwa bakat detektif yang terpendam
berspekulasi bahwa telah terjadi kecelakan sehingga menyebabkan seorang
wanita tua menjadi korban. Dan 3 orang bocah SMA tersebut adalah
pelakunya!. Saat kejadiana adalah bertepatan dengan jam pulang sekolah.
Sesampainya
di rumah teman kami, kami menceritakan kejadian tersebut kepada sang
empunya rumah. Setelah setelai berkunjung, kami i melajutkan perjalanan
panjang itu dengan menempuh rute perjalanan yang sama. Kami melewati
tempat tadi. Alangkah kagetnya kami karena di pinggir jalan tersebut
sudah dipasangi bendera kuning yang tiangnya diikat di kursi-kursi.
Berarti Ibu yang kami lihat tadi sudah meninggal. Berarti saat kami
melihat ibu tersebut, kami sedang melihat sakaratul maut di depan mata
kepala kami. Sebuah cara yang tragis. Innalillahi wa inna'ilaihi
roji'un.
Keesokan harinya, salah satu teman saya yang
tinggal di dekat wilayah tersebut bercerita menurut versi kejadian bahwa
sebuah mobil melaju lambat karena ada seorang ibu-ibu yang hendak
menyebrang ke warung. Malangnya, Dari belakang mobil tersebut sebuah
motor yang tak lain lagi dikendarai oleh remaja SMA yang berboncengan
menabrak ibu tersebut. Mungkin awalnya remaja tersebut ingin menyalip
mobil di depannya yang melaju lambat.
Siapa sangka bahwa
ibu tersebut mungkin hanya ingin membeli sebungkus teh ke warung
seberang, atau hanya ingin membeli sekaleng susu untuk cucunya di rumah
namun ternyata ia tidak akan pernah kembali selama-lamanya?
Bagaimana
nasib ketiga remaja tersebut?. Pasti, Pasti peristiwa merenggutnya
nyawa seorang ibu ditangan mereka menjadi dosa dan sesal SEUMUR HIDUP
buat ketiga remaja tersebut.
Sering saya mendengar
tetanggga, dan mereka kebanyakan ibu-ibu, walau ada juga yang
bapak-bapak berkata " Eh si Anton mah udah bisa naik motor lancar, dari
SMP. Si embaknya Ria itu juga udah berani kok naik motor" dengan
bangganya. Dan saya sendiri tau kalau anak tetangga saya itu
pulang-pergi ke sekolah selalu naik motor. Dulu saya baru bisa atau baru
berani naik motor ketika sudah kuliah, itupun tingkat akhir penyusunan
skripsi. alasan bisa naik motor juga karena nekat mau mengungsi pasca
gempa bumi di Jogjakarta.
Dari artikel yang pernah saya
baca menyebutkan bahwa siswa SD dan SMP yang berusia di bawah 16
tahun. Emosi masih labil. Mudah goyah oleh ajakan yang kadang
menjerumuskan. Secara teori, usia remaja adalah masa saat terjadinya
perubahan-perubahan yang cepat, termasuk perubahan fundamental dalam
aspek kognitif, emosi, sosial dan pencapaian. Masa seperti ini terkenal
dengan masa mencoba-coba. Apa jadinya jika yang dicoba adalah sepeda
motor di jalan raya. Bahkan tidak jarag bocah SD menyetir motor dengan
kecepatan kira-kira 60 Km/ jam di jalanan yang ramai kendaraan. Apalagi
kondisi emosi ABG yang masih labil tersebut lebih mudah untuk
diprovokasii oleh teman-temannya, " cemen kalau cuma bisa 40 km/ jam".
Rasa ingin membalap (menyalip-red) motor di depannya pun mungkin sering
terlintas.
Saya jadi berpikir pernahkan para orang tua
yang memberikan motor kepada anak ABG mereka merasakan konsekuensi
tersebut?. Tidak sedikit orang tua memanjakan anak mereka secara
berlebihan. Kalau anak sudah merengek-rengeng minta dibelikan motor,
maka saking sayangnya para orang tua, tak lama kemudian dikabulkan.
Konsekuensipun dikesampingkan. Meski dengan alasan si anak: ' cuma mau
ke warnet depan kok, yah', 'cuma mau ke rumah teman kok' '
cuma'...'cuma' dan sebuah kata ajaib 'cuma' yang berakhir dengan
penyesalan seumur hidup anda.
Maaf bukan bermaksud menggurui, Hanya berbagi pemikiran saja. Correct Me If I'm Wrong.
 |
| Posisi Cenglu (bonceng telu=bonceng bertiga di istilah bahasa jawa Jogja) |
 |
| anak yang ugal-ugalan |