Senin, 15 April 2013

Cahaya-cahaya Cantik Kamakura

  Sekilas tentand Akita. Akita adalah prefektur atau Provinsi yang terletak di Jepang bagian Utara pulau Honshu, tepatnya di wilayah Tohoku ( wilaya di bawah pulau Hokkaido). Akita berbatasan dengan Prefektur Aomori, Iwate dan Yamagata. Oleh sebab itu, wilayah Tohoku, termasuk  Akita dengan ibu kota Akita City merupakan wilayah yang memiliki iklim lebih dingin daripada wilaya-wilayah Jepang di bawahnya, meskipun tidah sedingin Hokkaido. Namun demikian, Akita dan wilayah Tohoku mengalami musim dingin yang lebih panjang dari musim lainnya. Kira-kira bila dihitung, Hawa dingin mulai menerpa Akita dimulai pada bulan November dan berakhir pada pertengahan April. Maka nyaris setengah tahun Akita dan wilayah Tohoku dilanda musim dingin!.

Peta Jepang, dan letak Akita
    Karena wilayah yang dingin ini, maka volume salju yang turun pun melimpah-ruah. Salju turun terparah di bulan Januari hingga Februari. Bayangkan seandainya Indonesia tiba-tiba  mengalami musim salju, tentu akan menjadi pengalaman yang merepotkan, bukan pengalaman yang menyenangkan. Karena Ketika salju turun setiap hari dalam volume yang besar, kemudian lambat laun salju akan menimbun pemukiman, merusak hasil panen kebun, mengganggu transoprtasi.Maka tentu hal tersebut menjadi suatu musibah di indonesia. Namun tidak demikian dengan Jepang. Tahukah anda, di Akita ketika salju mulai menggila, Pemerintah daerah mulai dipusingkan oleh tumpukan salju yang menutupi jalan-jalan. Maka solusi masalh itu dengan mengerahkan tim khusus untuk mengangkut salju dari jalan-jalan utama ke daerah sedikit hunian. Lalu cara menyikirkannya? yaitu dengan menggaruk sarju di jalan-jalan utama dengan truk berbak besar. Hal yang menarik di sini adalah, wilayah kosong yang menjadi tempat pembuangan salju, lambat laun tampak seperti wilayah pegunungan buatan akibat timbunan salju yang menggunun.

   Betapapun melelahkannya pengalihan salju tersebut, Pemerintah dan masyarakat Akita tidak serta-merta memandang salju sebagai musibah. Di sisi lain salju di pandang oleh Masyarakat Jepang, khususnya masyarakat Akita sebagai  sebuah berkah. Mengapa demikian, sebab salju yang melimpah ternyata dapat menghasilkan kualitas air yang bagus, sehingga air yang bagus membuat tanah subur, kemudian tanah yang subur menghasilkan padi berkualitas bagus.

     Salju selain  menghasilkan padi yang enak, Pemerintah dan masyarakat menyikapi salju yang melimpah dengan memanfaatkannya menjadi sesuatu yang berguna. Sesuatu yang dibanggakan dari salju tersebut adalah Perayaan "Kamakura".  Kabarnya Festival kamakura sudah ada sejak 400 tahun yang lalu. Kamakura sendiri adalah sebuah bentuk rumah yang meyerupai rumah suku Iglo Eskimo. Setiap musim dingin di bulan Febuari, Pemerintah kota Yokote di bawah kendali provinsi akita menyelenggarakan perayaan "Kamakura"  dengan mengkreasikan berbagai bentuk yang terbuat dari salju. Seperti bentuk rumah Igloo yang pernah kita Pelajari pada pelajaran IPS sebagai tempat tinggal tradisional suku Eskimo. Ada pula bentuk-bentuk yang menyerupai tokoh-tokoh kartun Jepang, Doraemon, Tonarino Totoro, sampai pada bentuk patung manusia. Sungguh merupakan festival tahunan yang unik, tentunya bersaing dengan Festival salju (yuki Matsuri ) yang ada di Hokkaido, wilayah paling utara Jepang.

 Boneka salju berbentuk tokoh Kartun "Tonari no Totoro"

 Tembok salju yang dipahat berongga-rongga, dan diletakkan lilin, menambah temaram cahaya malam


Lampu berwarna biru terlihat cantik memukau ribuan pengunjung

 Api dari lilin-lilin tersebut tidak padam terkena salju

 Berpose di samping Love Candle

 Lilin-lilin di letakkan di dalam salju sepanjang jalan
     Bentuk menyerupai hati


 Bentuk asli Kamakura
 Amazake, minuman manis beraroma sari kedelai

Merasakan pengalaman di dalam Kamakura
   Pengunjung dipersilahkan mendapat pengalaman menikmati ruangan di dalam Kamakura yang ternyata hangat. Di dalam ruang kamakura biasanya anak-anak dan orang dewasa memanggang kue mochi dan menikmati minuman amazake. Tentunya pengalaman menikmati ruangan kamakura adalah gratis.

  Setelah 2 atau 3 hari pelaksanaan Festival kamakura,Untuk menghindari kecelakan dan bahaya  akibat runtuhan es kamakura, baik kamakura yang masih kokoh berdiri sampai kamakura yang tinggal sisa-sisa, seluruhnya harus dihancurkan dengan mobil-mobil penghancur es di bawah instruksi pemerintah.
Yang mengagetkan adalah biaya merobohkan 1 buah kamakura bisa bernilai 50 ribu yen atau setara dengan 5 juta Rupiah!!!!
Sisa-sisa runtuhan salju pun harus segera dibuang ke area pembuangan yang telah disiapkan.        Akses untuk mencapai lokasi Kamakura adalah dengan menggunakan kereta listrik, dengan jarak tempuh 40 menit (sekitar 2000 yen tiket pulang-pergi). Meskipun jarak yang jauh, namun rasa lelah dan mahal terbayar dengan pemandangan unik menarik yang ada di kota Yokote. Terlebrih lagi, pergi untuk menikmati pemandangan buatan yang indah tersebut ternyata sama sekali tidak dikenakan biaya sepeserpun, kami hanya perlu merogoh kocek untuk transportasi kereta listrik menuju lokasi. Sesampainya di pintu keluar stasiun kereta Yokote, kami langsung disambut dengan minuman yang dibagikan secara gratis. Minuman itu bernama Amazake. Minuman tradisional Akita  berorama manis dan in shaa Allah terbuat dari bahan yang halal. Padahal pengunjung yang datang selama 3 hari itu berjumlah ratusan, bahkan mungkin ribuan.

  Ratusan kamakura berukuran mini yang kabarnya dibuat oleh anak-anak SD setempat benar-benar seperti membawa pengunjung ke negeri antah -berantah.

 Penyelenggaraan perayaan yang cuma-cuma, dan minuman yang gratis dari pemerintah kota yokote membuat saya tidak habis pikir, betapa murah hatinya pemerintah Akita menyelenggarakan acara tahunan sehebat itu. Betapa kreatifnya Masyarakat Jepang, khususnya Akita, mengalihkan Musibah menjadi sebuah Berkah.

                Saya jadi berpikir, alangkah bagusnya bila Indonesia, khususnya masing-masing daerah mulai berpikir kreatif yakni meampilkan kebudayaan lokal yang unik yang hampir tidak dimiliki oleh wilayah lain menjadi suguhan yang membanggakan. Alangkah baiknya jika Departemen pariwisatata tidak terkesan mati suri di meja jabatan mereka. Sehingga Departemen pariwisata di masing-masing daerah bisa menggali potensi SDA dan SDM yang ada di masing-masing daerah dan mengabdikin diri mereka demi memajukan dunia pariwisata di Indonesia.







Kamis, 04 April 2013

Menyikapi Rasa Kehilangan

Tak terasa hampir 2 bulan menjalani libur musim semi di Jepang. sistem pendidikan di Jepang menerapkan libur semester dua kali setahun, yakni libur musim panas di bulan Agustus sampai September, dan libur musim semi pada bulan Februari sampai Maret. Di Jepang, Kalender Akedamik baru dimulai pada awal April. Di samping itu bulan April dikenal sebagai bulan penerimaan  karyawan baru.

Jika dirasakan kembali, sebenarnya selama hampir 2 bulan libur musim semi ini sudah saya lewati dengan berbagai macam hal diiringi oleh limpah ruah perasaan . Banyak canda tawa dan air mata yang saya lalui selama hampir dua bula terakhir. Diawali dari party-ke party, karaoke, hingga akhirnya bermuara pada  perpisaan dengan orang-orang yang saya kenal dengan baik. Orang-orang yang meninggalkan kesan baik yang mendalam. Beberapa di antaranya bahkan entah mungkin kapan bisa bertatap muka dan bersentuhan kembali dengan mereka  di suatu masa. Memang di zaman sekarang tidak seperti zaman dulu di mana akses komunikasi sangatlah sulit. Lihat saja contohnya Media sosial: Facebook, Twitter, Line, Path yang menghubungkan satu-individu ke individu yang lain melalui cuap-cuap curhatan bahkan bisa berbagi foto, sampai dengan Skype yang menawarkan jasa kecanggihan tekhnologi bertatap muka lewat cam to cam dengan layanan nyaris free talk bisa sampai mulut berbusa. Namun sepertinya kecanggihan teknologi tersebut tidak bisa mengalahkan pertemuan atau kontak fisik secara langsung di muka bumi ini. Kadang saya berfikir, seandainya teknologi membawa kita seperti pada komik Doraemon, di mana tokoh  Nobita bisa leluasa datang dan pergi dengan "Doko demo doa" alias Pintu Kemana Saja milik si kucing Robot Doraemon, maka alangkah mudahnya hidup ini. Warga Indonesia dan seluruh dunia tidak perlu antri BBM untuk memberi makan kendaraan-kendaraan mereka.

Ya, mungkin saja, di suatu zaman nanti, dengan kemajuan IPTEK, maka alat bertekhnologi tinggi tersebut bisa dirasakan dan dinikmati sehingga kita dengan mudah  bebas datang dan pergi menjumpai orang-orang yang kita sayangi kapan saja dan di mana saja seperti si Nobita. Semoga saja.

 Baik melalui kematian, kehilangan, atau perselisihan, ketika kita kehilangan seseorang atau sesorang yang sangat disayangi, kita menjadi kewalahan oleh kepedihan, kesedihan, dan rasa sakit kehilangan. Perasaan-perasaan tersiksa tersebut membuat hati kita  merasa sombong seolah-olah derita yang tidak akan pernah berakhir. Bahkan perasaan kehilangan tersebut bisa menjadi traumatik terhadap diri. Ketika kita belajar mengenal seseorang dan mulai menyukai bahkan mencintai mereka dengan jangka waktu yang relatif, kemudian serta-merta harus berpisah dengan mereka. Maka hal tersebut tidaklah mudah untuk dilalui, bahkan untuk dilupakan. Seperti suatu kepercayaan yang mana aura dan bau si yang meninggalkan masih tersisa di sekeliling ruangan yang biasa ditempati.  Sebenarnya mungkin bukanlah aura, tapi lebih tepatnya adalah kenangan-kenangan  mereka masih tersisa di kepala kita. dibuat seolah-olah masih terdengar suara-suara tengah bercakap-cakap, bersenda gurau, rayu-merayu dan lain-lain. Segala kenangan manis yang terlanjur menempel seperti cipratan cat di tembok putih, tentunya akan sulit dihapus begitu saja. Semua perasaan kehilangan tersebut bisa menguras habis emosi kita, menyisakan deraian air mata setiap saat, meniggalkan luka yang mendalam dan traumatik, luar bisa perih. Wajah yang dulu ceria, bisa tiba-tiba menjadi terkesan lebih tua dari yang biasa karena kerutan kesedihan di wajah. Bagaikan bunga mawar yang dulu segar kini menjadi kering. Kita jadi dibutakan oleh air mata, mata hati kita menjadi gelap dan kita gagal melihat cahaya.
Sahaba-sahabat


Namun tahukah kita bahwa Cahaya yang sanggup menembus gelapnya hati, dalamnya tanah, dan luar angkasa senantiasa mengamati kita. Cahaya sejati yang sesungguhnya tidak  akan akan pernah padam. Cahaya yang menciptakan cahaya. Ya, Dia lah An-Nur yang Maha Bercahaya. Allah subhana Wata'ala.


Inna lillahi wa inna ilayhi raji `oon.Sesungguhnya, bagi Allah kita milik dan, sesungguhnya, kepada-Nya kami akan kembali.

Ketika kehilangan mencabik-cabik sanubari, dan ingatan-ingatan masa lalu menjajah memori, maka ingatlah bahwa segala sesuatu akan kembali kepada Rabb yang kekal  Abadi. tiada satu mahlukpun yang abadi, termasuk diri kita sebagai jiwa yang ditinggalkan. Sesungguhnya jika kita renungi sebaris ayat dalam Al-quran tersebut, jelaslah dari mana asul-usul kita berada. Dari mana dan mau kemana kita pulang (kembali), kepada siapa, dan untuk siapa kita kembali.

Selama merasakan kepedihan akibat kehilangan tersebut, kita sibuk bertanya " mengapa ini harus terjadi"?,  "alangkah baiknya kalau dulu bigini dan begitu", sibuk menyalahkan diri. Kita hanyut tenggalam  dalam derasnya  pusaran pertanyaan-pertanyaan yang tidak perlu untuk diungkit. 



Sesungguhnya bila kita memahami ayat tersebut, segala sesuatu telah dirancang oleh allah yang maha  Menata (Al Baari').The Maker of Order, tiada satu kesempatan dan gerak-gerikpun yang luput dari rencananya. Setiap detik berlalu telah diperhitungkan oleh-Nya. Perpisahan dan pertemuan. Kelahiran dan Kematian. Setiap detik telah disusun. Kalimat dalam ayat ini pula yang mengingatkan saya dengan peristiwa luar biasa menurut pandangan saya, dimana saat itulah, saya benar-benar merasa bahwa Allah memang maha Penata yang paling dahsyat. Bagaimana mungkin dalam detik dan titik yang tepat di tengah kerumunan manusai berlalu lalang di depan pintu masuk stasiun kereta, Allah SWT mempertemukan saya dengan salah satu sahabat saya di salah satu stasiun di Tokyo, padat penduduk dan luas tanpa saling menghubungi lebih dahulu. Sebuah kebetulan saja kah?, atau memang pertemuan kami adalah pertemuan takdir?  Nalar sulit untuk menerima.

Maka Al-Baari' yang maha kuasa memepertemukan kita dengan seseorang, sekaligus Maha berkehendak memisahkan kita dengan seseorang.





Ketika kita benar-benar memahami arti dari ayat inna lillahi wa inna ilaihi Rorji'un `, kita menemukan bahwa kesedihan tidak akan berlangsung selamanya, dan bahwa kita tidak harus menghancurkan diri kita sendiri. Dengan memahami bahwa hanya Allahlah pemilik jiwa kita, hanya kepada-Nyalah kita kembali dengan berjuang menemukan jalan yang benar untuk berpulang kepadanya, Bertemu dengan yang Maha teduh
 Al -Waduud. Kita harus berjuang menyingkirkan perasaan-perasaan pedih yang sesungguhnya semua itu adalah fatamorgana, karena akan tiba saatnya kita juga kembali cepat atau lambat, pelan tapi pasti.

Cobaan yang dihadapi oleh Ummu Salamah radhiyallahu `anha Allahu, mengajarkan kita pelajaran penting tentang bagaimana menghadapi cobaan, kehilangan, musibah dan situasi di mana kita tidak mendapatkan sesuatu yang kita harapkan. Pendekatannya terhadap bencana menunjukkan kepada kita apa artinya untuk bersabar dalam menghadapi kesulitan dan mengakui bahwa Allah (SWT) akan selalu mengembalikan apa yang Dia ambil dari seorang mukmin dengan sesuatu yang lebih baik.Semua TIDAK hilang.




Ya, Namun yakinlah Allah akan mengganti dengan sesuatu yang lebih baik jika kita ikhlas dalam menerima. Hanya dengan berserah diri kepada Al- Barri Allah yang Maha Pengatur, maka jiwa ini akan merasa tenang, menggantungkan semua harapan kepada yang Maha memberi (Provider Abadi), Yang maha kekal abadi (Ever-lasting One), maka rasa perih tersebut akan berangsur-angsur menjadi tenang.


Diceritakan, Suami pertama Ummu Salamah adalah Abu Salamah radhiyallahu `anhu Allahu, yang kembali kepada Allah (SWT) ketika Jumada Al-Akhir pada tahun keempat setelah Hijrah, setelah menerima luka dalam Pertempuran Uhud. Kematiannya  mengakibatkan kesedihan karena ia telah mencintainya dengan tulus. Akan tetapi , Ummu Salamah (ra) tidak gagal untuk berpaling kepada Allah (SWT). Patah hati dengan kepergiannya, dia tetap teguh dalam hubungannya dengan Allah (SWT) dan berserah diri hanya kepada-Nya untuk kita Rabb (Tuhan) adalah Al Mughni-the Pemupuk, satu-satunya yang memenuhi kebutuhan Penciptaan-Nya. Dalam masa dukanya saat ia bertanya-tanya siapa seseorang  yang mungkin bisa menggantikan lebih baik dari Abu Salamah, maka Ia berdo'a kepada Allah:


inna lillahi wa inna ilayhi raji `oon, Allahumma ajirni fi musibati wa li akhlif khayran minha"Sesungguhnya, kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kami akan kembali. Ya Allah! Gantikanlah untuk musibah yang telah menimpaku dengan yang  lebih baik dari itu. "Allah (swt) kemudian menjawab nya do'a dengan memberikan nya Rasulullah ﷺ (saw) sendiri! Dalam Syawal pada tahun yang sama di mana Abu Salamah (ra) kembali kepada Allah (SWT), Rasulullah ﷺ menikahinya. Dengan demikian, karena kesabaran dan pengakuan bahwa kita adalah milik Allah (SWT) dan kepada-Nya kita kembali, Allah (swt) kompensasi dia dengan hadiah dan dibalas kehilangannya."Siapa yang lebih baik dari Abu Salamah?" Dengan memberkati dia dengan Rasullah kita tercinta.


Maka hikmah dibalik cerita di atas tersebut adalah Sabar dan ikhlas, menyerahkan  segala urusan hanya kepada Allah. karena segala yang hilang pasti akan ada gantinya. orang-orang terkasih yang pergi, insya Allah, Ia akan menggantikannya dengan orang-orang yang lebih baik yang akan menyayangi kita. Bahkan bisa saja dengan kuasa Allah, dipertemukan kembali dengan orang-orang yang kita sayangi.

Tiada ujian dan musibah yang melebihi kapasitas kemampuan kita, karena Allah tiada akan memberi cobaan melebihi kemampuan mahluknya. Hujan pasti berhenti, badai pasti berlalu,dan luka akan mengering segera jika kita Menyadari bahwa hanya kepada Allah tempat kita mengadu, mencurahkan segenab kepercayaan hanya kepada -Nya bahwa kita yakin dengan bantuan-nya semua derita dan musibah akan bisa terlewati. 

Tiada rasa kehilangan, kesulitan  dan musibah yang terlalu sulit untuk dilewati, jika kita menyadari bahwa jiwa dan raga kita ini hnya milik Allah, hanya dari Allah lah dan hanya kepada Allahlah kita, dan semua yang kita miliki akan kembali. 



Rabu, 27 Februari 2013

Islam di Akita


Tidak banyak yang bisa diceritakan tentang Islam dan perkembangannya di Akita. Sebuah provinsi yang terletak di Jepang bagian timur, bersebelahan dengan Provinsi Aomori dan Iwate, lebih gamblangnya provinsi yang berada di bawah pulau Hokkaido. Tentunya masuk dalam zona wilayah bersuhu dingin. Di Akita  musim dingin dimulai dari Desember hingga Awal April, dan puncak Musim dingin adalah pada bulan Januari hingga Desember dengan rata-rata suhu udara 1 derajat Celcius sampai pada -6 derajat Celcius.

Sesuai dengan iklim Akita yang dingin, maka aktivitas dan perkembangan Islam di wilayah Akita berjalan dingin. Selama menginjakkan kaki ke Akita, belum ada satu pun tempat di setiap sudut Akita ini yang bisa disebut dengan bangunan masjid. Hampir tiga bulan berdiam di Akita, akhirnya seorang teman dari  Afganistan berbaik hati menuntun saya pada  sebuah ruang mungil yang disediakan oleh pihak Universitas Akita yang  terletak di Area Kampus, tepatnya berada di area gedung kegiatan club Kampus. Ruang tersebut dipergunakan untuk keperluan sholat, lebih tepatnya Sholat Jum'at. Sebenarnya ruang sholat tersebut bisa digunakan untuk waktu-waktu sholat lainnya karena di dalam ruang tersebut terbentang karpet lengkap dengan beberapa sajadah dan 3 buah rak yang tersusun beberapa Al Qur'an dan buku-buku islam berbahasa Inggris, dan sebagian besar berbahasa Melayu. Tepat sekali seperti dugaan anda, bahwa sebagian besar warga Muslim di Akita adalah mahasiswa Malaysia yang menuntut jenjang S1, jumlah mereka adalah yang terbanyak dari seluruh warga muslim yang saya ketahui di Akita, yaitu berjumlah kira-kira 30 orang. Selebihnya adalah berasal dari Afganistan, Indonesia, Pakistan. Selama pengamatan saya, belum pernah saya dengar ada orang Jepang yang beragama Islam di daerah Akita.

Meski ruang tersebut diberi izin untuk digunakan sebagai tempat sholat, namun tidak tersedianya tempat wudhu atau toilet membuat tempat tersebut terasa kurang pas, Kurang pas disebut sebagai mushola apalagi Masjid. Meski demikian, Patutlah bersyukur karena masih ada tempat untuk para pria melaksanakan kewajiban Sholat Jumat setiap minggunya, walau pada kenyataannya, Sholat Jum'at sering tidak diselenggarakan karena kurangnya jumlah jama'ah yang menjadi syarat bisa diselenggarakannya sholat Jumat.



Sedangkan hanya beberapa orang Indonesia yang beragama Islam yang bisa dikenal di Provinsi Akita. Beberapa dari mereka adalah warga Indonesia yang tinggal menetap di sini karena menikah dengan orang Jepang. Kegiatan Rohani seperti pengajian juga tidak pernah saya jumpai, tapi saya sering dengar bahwa pelajar dari Malaysia rutin mengadakan pengajian namun hanya untuk intern warga Malaysia saja.

Kurangnya persatuan umat Islam di Akita ini menambah kerinduan akan kampung halaman, terutama kerinduan   akan suara kumandang Azan dan bentuk bangunan masjid. Sehingga bila saya bepergian ke Tokyo dimana ada beberapa tempat yang bisa disebut sebagai bangunan Masjid seperti di wilayah Ueno, Yoyogi Uehara, Otsuka, Asakusa, saya selalu menyempatkan diri singgah di Masjid-masjid tersebut. Maka Masjid menjadi tujuan wisata spiritual saya di Tokyo. 

Islam memang masih terlihat sangat asing di Akita. Namun demikian, orang Jepang sangat menghormati muslim dan muslimah baik salam memberikan pelayanan publik maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Selasa, 26 Februari 2013

My Experience In The First Month In Japan

       It has been 5 months since I came in Japan. The first place I stepped my feet on in Japan was Akita Airport. Beforehand, I was so nervous to fly from Indonesia to Akita alone for about 13 hours including transit hours. I had my transit in Incheon Airport, South Korea and no one I know there. What  worse, was that I don’t speak any korean.



      However, so many surprises I got soon after I was done with my trip. These all were started from, when I arrived at Akita Airport, completing all arrival procedures, and then entered the airport lounge to meet someone whom was arranged by Akita university to pick me up.  Not so long after I saw her face then we greeted each other. But suddenly, a young man came to us, introducing his self briefly in a polite way. It was getting strange when he showed me, from his wallet, something that made me a bit shocked, his identitiy card as a police officer! I asked myself, did I break some rules? or probably it was just because I looked like a suspicious stranger with my muslim dress? However I tried to answer his questions serenely. He asked me some questions, about my destination, if it was my first time to come to Japan, how long I will stay here, have I ever made any crime before (of course, my answer for this question was “Never”), and  those all intimidating questions were finished by saying “ Arigatou gozaimasu”.  Even now, I still have no idea why I had to be asked some offensive questions by a policeman? Does every foreigner get the same treat like me? (Or it was just because I came to Japan from Akita Prefecture, not from Narita International airport that it used to be.



    After a month spending my time in Akita, the suffering came over me.  Some frustating things were happening around, for instance,  the problem about I can’t have a phone cellular because it required alien resident card to have contract with the provider (and nothing I can do for because I would get that card one month after my arrival). Having no mobile phone made my communication with foreigner friends and with my tutor so difficult. In one month I had to call them by public phone which is relatively expensive. Sometimes the phone was cut off during  the conversation because I ran out of coins, and I was too lazy to get some other small changes. There was a time when  I missed a trip just because my friends were not able to reach me by phone when they wanted to invite me. I felt I was like living in my own world in a strange planet, eventhough I can speak Japanese a little bit. The worst thing was, during my first two weeks here I coudn’t access internet connection from my room eventhough I plugged the cable into my laptop, and another problem was : my laptop’s plug doesn’t  fit well with japanese electric power socket. It means that I would spend most of my nights and weekend alone and it’s like a proverb “my world totally was just like a little bird in her cage”. Lacking of money and having not so many friends to talk to made it much worse. 



      But I have to admit that during my troubles happened around there were so many pleasing things I’ve found, like facilities I‘ve got in Akita. The public service is the best so far I’ve known. For example, when I and my tutor went to ward office to do some immigration procedures, they gave me very excellent service. I didn’t need to wait for the process for hours and it costed not so expensive. It‘s so different from my country where we have to be extra-patient to wait for them to get all done for days, event for 1 or 2 weeks!

It’s surprising when only old people here are friendly to me. During my time having no bicycle, some old Japanese ( most of them are male) were greeting me and giving me supports to live here when I was on the way to campus.  Of course young people here are nice but not  as warm as old people with foreigner. There’s something in young Japanese which I never understand. It’s like we have completely different worlds, and there is a wall between them that separates us and it seems it makes them to hold back theirself to get into my life too much. Or probably am I the one who restrains myself from them? I don’t know. But I hope someday we can tear down the wall so that we can welcome each other to our own worlds, despite of our differences.

 

       The difficulties are still around me since not so many muslims live in akita, even it can be said that muslim is rare here. I have not found any Muslim Communty yet, not also mosque, even there is no Halal Store in the city that makes me should cook my own meal. By the way, in Arabic, the word halal means permitted or lawful. Halal foods are foods that are allowed under Islamic dietary guidelines. According to these guidelines gathered from the Qu'ran ( QS.Almaidah: 3-6), Muslim followers cannot consume the following:

  • pork or pork by products
  • animals that were dead prior to slaughtering
  • animals not slaughtered properly or not slaughtered in the name of Allah
  • blood and blood by products
  • alcohol, sake, mirin
  • carnivorous animals
  • birds of prey
  • land animals without external ears

These prohibited foods and ingredients are called haram in arabic, which means forbidden.

Well, as a muslim I have so many restricted foods, but the good this is I have to cook my own meal, which means, it helps me to save more my money. ( And as to halal food, some of my friends have suggested me to buy it  by online, and I think thats not bad.) Moreover, consuming home-made seafood meals everyday is quite cheap and good for my health.  



     I have faced many difficulties here. And I felt some of them are obstacle to me. Some are enlighting, but some even really hit me down. Somehow I’ve still been strugling to adapt my new life here and have been trying  some efforts to make many new friends, and of course, to learn more about Japanese people and its society.


Senin, 25 Februari 2013

Cross Cultural Communication

        Dua hari yang lalu saya diundang makan-makan di apartemen teman saya yang berkebangsaan Afghanistan. Tentunya bukan hanya saya saja yang diundang ke sana, teman dari latar belakang bangsa yang berbeda juga turut diundang dalam perjamuan tersebut. Di antaranya adalah orang, Malaysia, Jepang, dan Botswana (Afrika). Kami disuguhi berbagaimacam santapan khas  Afganistan yang sekilas dilihat tidak berbeda dari masakan-masakan Arab atau India pada umumnya, seperti nasi berempah dan aneka kare. Tapi setelah dicicip, ternyata masakan tersebut memiliki cita rasa yang berbeda. Menurut saya jauh lebih lezat dar pada hidangan yang saya santap di Restoran India, Mesir, Iran yang berada di wilayah Tokyo. Tapi mungkin juga terasa lebih lezat karena teman  Afganistan saya ini memang jago masak, selain yang memasak ini seorang lelaki lumayan ganteng, hehhehe.....Terus terang saya sangat salut dengan laki-laki yang lihai di dapur. Menurt pribadi saya, seorang laki-laki yang lihai di dapur sama sekali tidak mengurangi sisi kemaskulinannya, justru dari kelihaian tersebut dapat terlihat bahwa mereka adalah para pria yang bisa diandalkan, terutama setelah berumah tangga di mana sang istri nantinya tidak mampu kedapur karena repot dengan bayi atau dengan urusan lainnya.

Berikut ini beberapa hidangan Afghanstan yang belum diketahui resep rahasianya:
1. Chabli Kebab (terbuat dari dagi sapi)

Daging yang dicincang kemudian dipanggang, lalu dipadukan dengan salad


2. Qurma Kare



Terbuat dari daging sapi, kentang, dan rempah yang entah apa namanya :D, rasanya mirip sekali dengan kare ala India

3. Nasi Kabli

Nasi berbumbu yang diberi kismis, wortel, almon dan lain-lain, tetntunya semua bahan yang digunakan agak mahal


      Saya pun tak kalah ingin menyuguhkan beberapa hidangan dari Indonesia sebagai sifat pekewoh saya karena diundang makan. Rasanya kalau tidak membawa sesuatu ketika berkunjung, terutama ketika diundang makan, tidak enak hati bila tida membawakan sesuatu, walhasil saya membawakan beberapa buah pisang molen dan martabak manis yang saya buat sendiri. Sebenarnya malam sebelum undangan makan tersebut, saya dan teman malaysia janjian membuatkan desert dari negara masing-masing, karena si Afghanistan tersebut akan memasakkan hidangan inti. Tapi teman sayangnya malaysia saya tersebut bangun siang sehingga ia tidak sempat mebuatkan kue dari negaranya. walhasil dari 6 tamu yang datang, hanya saya yang membuat masakan dari Indonesia. Dan tentunya hidangan ala Afghanistan tersebut nyaris dilalap habis.
Molen Mini Imut ala saya

Martabak Manis Keju ala saya



Alhamdulillah  senang rasanya karena hasil karya saya disambut baik oleh mulut mereka.
Setelah puas dengan santapan di atas, kami melanjutkan Minggu siang tersebut dengan bermain kartu yang memiliki aturan main yang sangat baru tapi sangat gampang dan mengundang banyak canda tawa.








Hidangan Cina Plus Opor ayam
      Setelah menyelesaikan permainan kartu kedua, saya berpamitan dan langsung menuju ke Asrama mahasiswa Asing yang berada hanya beberapa meter dari Apartement teman Afghanistan. Di Asrama tersebut saya memang sudah membuat janji dengan dua teman wanita dari Cina untuk memasak makana dari negara masing-masing. Mereka mengajari saya cara membuat gyoza. Saya pun mengajari mereka cara membuat Opor ayam, walaupun pada kenyataannnya mereka tidak ikut membantu saya memasak, tapi hanya menonton sesekali karena menurut mereka rempah-rempah opor tersebut sangatlah asing, dan cara mengolahnya pula terlalu rumit meskipun saya sudah jelaskan bahwa sebagian bahan bisa dibeli di supermarket di dekat stasiun kereta terdekat.   Terang saja, karena rempah masakan Cina ternyata tidak serumit masakan Indonesia, dimana bumbu yang mereka pakai pada umummnya adalah bawang putih, kecap asin, dan arak. Namun tidak apalah,yang penting mereka senang bisa merasakan yang namanya masakan  Indonesia. Ngomong-ngomong ayam tersebut saya bawa sendiri dari apartemen yang saya pesan dari toko halal online. Total saja hari itu barang bawaan saya berat sekali.



Ternyata membuat gyoza itu mudah sekali (=^w^=)

       Hari itu saya melalui acara makan-makan dua negara yang berbeda dimana timbul saling pengertian. Kalau di perjamuan makana Afghanistan, semua hidangan in sha Allah berbahan halal, maka di acara masak bersama teman Cina tersebut, betapa rasa pengertian mereka untuk tidak menggunakan bahan-bahan yang haram setelah mereka banyak bertanya kepada saya.











يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui (QS.Al Hujarat : 13)

Rabu, 20 Februari 2013

Kamifuusen (Festifal Lampion Raksasa di Udara)

Kamifuusen (Balloon Lantern Festifal) atau yang lebih dikenal dalam bahasa Indonesia yaitu festival lampion  raksasa udara. Kamifusen merupakan salah satu festival kebanggaan prefekture Akita di  kota Nishiki, kira-kira harus menempuh 2 jam perjalanan dari kota Akita. Festival Lampion udara ini diselenggarakan satu tahun sekali pada musim dingin tepatnya di awal bulan Februari. Sehingga ketika musim dingin dimana salju turun lebat membuat jalan menjadi licin yang memnyebabkan perjalanan menuju lokasi festival pun menjadi lebih lambat. Kota Nishiki terkenal akan tujuan wisata untuk menikmati pemandangan bunga Katakuri, yakni bunga hutan yang tumbuh liar dengan bentuk yang menyerupai anggrek di musim semi dan tujuan wisata menikmati buah Chesnut di musim gugur. Secara geografis, Kota Nishiki terletak di utara kota Kakunodate, dan sebelah barat Kota Tazawako yang mana Tazawako adalah kota yang terkenal sebagai tujuan wisata keindahan alam dan danaunya.
Bunga Katakuri




Buah chesnut yang memiliki rasa mirip kluwih

 

 

Biji kluwih, sejenis buah atau sayur nangka

 

 

 

 

 

 

 

 Festifal kamifusen sudah ada sejak ratusan tahun silam, namun berhenti ketika zaman perang, baru kembali dirayakan pada tahun 1974 atas semangat warga Nishi. Dan kini menjadi Festival tradisional tahunan yang menarik minat wisatawan domestik dan international.

Kamifuusen atau lampion raksasa ini dibuat dari kertas kemudian dilukis seperti melukis layang-layang. tema gambar pada permukaan kertas lampion tersebut bisa apa saja. Tetapi yang lebih diutamakan adalah gambar atau lukisan Akita bijin (perempun Cantik Akita) sebagai Icon Kota Akita. Bahkan salah satu hal yang menarik yang kami lihat adalah, salah satu gambarnya adalah tokoh kartun Chibi Maruko Chan yang terkenal itu. Kabarnya anak-anak TK, SD, dan SMP turut berpartisipasi menyumbangkan hasil lampion rancangan mereka di Festival tersebut. Hal itu bisa diketahui dari beberapa lampion raksasa yang mencantumkan nama sekolah mereka masing-masing.

Lalu hal yang paling ditunggu-tunggu adalah, pelepasan puluhan lampion-lampion tersebut ke udara dengan menggunakan tekhnik gas panas. Festival ini diselenggarakan pada malam hari setelah terbenamnya matahari. Lampion-lampion tersebut satu-persatu diterbangkansecara bergantian dengan sebelum diterbangkan diudara, ditahan oleh tangan-tangan anak-anak kecil. Ketika secara bersamaan dilepas oleh tangan-tangan kecil tersebut, betapa cepat balon atau lampion tersebut melesat ke langit seperti bintang bintang yang gemerlap. Apalagi ketika kapas-kapas salju berjatuhan di tanah, hasil potonya nampak seperti sebuah bintang besar dikelilingi ratusan bintang-bintang. Sangat menakjubkan.

Ukuran yang sebenarnya

Wisatawan pun berbondong-bondong datang dengan bis atau kendaraan pribadi  memadati lapangan  meskipun salju turun lebat dan jalanan menjadi sangat licin. Entah berapa kali, rasanya tak terhitung saya kepleset di atas permukaan salju, meski sudah memakai boot yang katanya anti kepleset. Tapi buktinya tetap saja saya kepleset juga. Sehebat-hebatnya sepatu boot, akhirnya akan kepleset juga (^o^).

Lapangan area dipadati oleh ratusan pengunjung setiap malamnya

 

salah satu lampion bergambar tokoh chibi Maruko Chan
Sesaat setelah dilepas ke udara
Indah Seperti bintang gejora di langit yang cerah

 

 

With some of my international friends at Andozo, Part of akita area

Rabu, 21 Desember 2011

Malaikat Maut Mengintai

BISMILLAHIROHMAANIRROHIM......

Kemarin siang kira-kira sehabis dhuhur di cuaca yang sedikit basah karena malamnya habis turun hujan, bau yang kurang sedap menyeruak di sudut dapur rumah kami, entah bau apa itu. Ibu sudah memencari asal bau tapi tidak ketemu. aku pikir mungkin plastik berisi  sampah yang lupa disingkirkan keluar ruangan. Ternyata tidak. Sampah tadi sudah disingkirkan ke luar  di dekat tempat sampah oleh ibu.  Atau mungkin bekas sampah yang terbungkus  plastki itu masih tercecerdi lantai. Tapi ternyata juga hal itu tidak terbukt karena lantainya terlihat bersihi. Rasa penasaran masih menggelayuti pikiranku dan ibuku, yang beberapa hari ini  hanya tinggal kami berdua yang ada di rumah. Ibu menggeser lemari kaca kecil di sudut dapur yang biasa digunakan untuk menyimpan bumbu-bumbu dapur dan sembako, Berharap sumber bau tersebut bisa ditemukan di bawah lemari kaca kecil tersebut. Tapi ternyata juga tidak ditemukan asal-muasal bau.

Baunya langu bercampur seperti bangkai tikus baru. Bisa dibayangkan baunya sangat membuat tidak nyaman. Karena sudah kecapean seharian mondar-mandir dengan motor ke kantor pajak dan menyervis motor, akhirnya aku jadi agak masa bodoh dengena bau tersebut, begitu juga ibu. Kami pikir, kalau baunya makin tajam nanti juga asal bau akan ketahuan, apalagi kalau sumber bau tersebut dari bangkai tikus, bikin malas untuk mencari tahunya.
Kalaupun asal bau itu adalah  bangkai tikus, berarti  itu adalah hasil perbuatan salah satu dari 2 kucingku yang ganteng-ganteng.

Bau tersebut berlanjut sampai waktu magrib, tapi baunya hanya berputar di sekitar pojok dapur tepatnya di daerah lemari kaca kecil  dan kompor gas yang terletak berdampingan.

Sehabis sholat magrib, aku dan ibu berdua jalan kaki ke rumah kakak perempuan ku untuk merayakan syukuran ulang tahun keponakan kami yang berusia 7 tahun karena jarak yang lumayan dekat dengan rumah kami. Sampai jam 9:30 malam kami meninggalkan rumah dalam keadaan kosong, hanya kucingku kubiarkan di dalam rumah sendirian karena kalau dia main ke luar sebentar saja, bisa-bisa dia ngeluyur sampai esok hari petang tidak pulang-pulang. Maklumlah sepertinya musim kucing pacaran sedang melanda ibu pertiwi.

Sekembalinya di rumah, bau langu campur busuk tersebut masih  berseliweran, bahkan baunya kok tercium makin kuat, sampai memasuki kamar tidur ibu. Aku pun harus menutup hidung setiap kali harus kalar-kilir ke dapur. Pintu kamar ditutup rapat supaya baunya tidak semakin liar memasuki ruang kamar yang terletak agak dekat dengan dapur.

Setelah sholat subuh, aku ke dapur untuk mengambil air minum, terdengar seperti sebuah suara mendesis. Ku cari asal suara itu ke seantero dapur. Desisan itu seperti suara angin yang keluar dari ban sepeda yang bocor.
Mataku terbelalak dengan apa yang sedang kutemukan saat itu. Ternyata asal  desis suara tersebut berasal dari kompor gas yang terletak berdampingan dengan  lemari kaca kecil. Kompor itu gas nya terbuka. Entah dari kapan kompor gas tersebut menyala tanpa ada apinya. Cepat-cepat  ku matikan kompor tersebut. Aku langsung panik memanggil ibuku yang sedang mengaji di ruang tengah. Lalu dengan inisiatifku sendiri aku  segera memanggil tetangga yang berjualan tabung gas dan ia biasa memasangnya untuk meminta ia memeriksa kelayakan tabung gas tersebut. Tapi katanya bau tersebut bukan berasal dari gas yang keluar dari kompor.

Hingga lewat pukul 8 pagi, sampai ku tulis note ini, bau tersebut sudah tidak kami jumpai di sekitar dapur dan lemari lagi. Jadi Mungkinkah dari kemarin siang sampai subuh asal misteri bau langu tersebut berasal dari kompor gas yang terbuka?
Wallahu'a lam Bisshowab.....

Alhamdulillahirobbil'alamin
ASTAGHFURULLAH....
ASTAGHFIRULLAH....

YA GHOFUUR..
                         (Yg Maha Pengampun)
YA KHOBIIR...
                         (yg Maha Waspada)
YA WALIYY....
                         (Yg Maha Melindungi)
YA MAANI'...
                         (Yg Maha Mencegah)