Kamis, 05 Februari 2015

Madinah Al Munawarrah


         Kira-kira pada pukul tiga dini hari, kami berempat memutuskan berangkat menuju Masjid Nabawi. Pak Haji, begitu sapaan akrab untuk pembimbing umrah kelompok kami  rupanya sudah menunggu kami berempat di depan hotel, siap membimbing kami menuju Masjid Nabawi. Pak Haji mengingatkan bahwa  Masjid Nabawi yang sangat luas ini memiliki 24 pintu masuk ke gerbang! Yaitu 8 pintu di bagian timur, 8 pintu bagian barat, 4 pintu bagian utara, 4 pintu bagian selatan. Pintu yang menghubungkan hotel Sama silver  dengan  Masjid Nabawi adalah pintu gerabang No.6. Pak Haji berkali-kali mengingatkan kami supaya kamii jangan sampai lupa nomor gerbang. Karena kalau sampai salah memilih pintu gerbang,  urusan akan runyam. Jalan menuju Pintu gerbang nomor 6 sedikit remang. Di sana sini berserakan terpal dagang menyelimuti pinggiran jalan mirip sebuah pasar. Di Jalan itu tampak dua orang penduduk lokal dengan suara lantang menawarkan mushab Qur’an kepada setiap orang yang melintas.

        Akhirnya kami melewati gerbang yang sangat megah dengan tulisan No. 6 di atasnya sebagai penanda. Lantai pelataran Masjid Nabawi bagaikan lantai di mall, mengkilat dan bersih walaupun selalu diinjak oleh alas kaki ribuan jama’ah. Saat itu langit masih gelap, tapi lampu-lampu masjid yang indah laksana gelas-gelas kristal gemerlap menerangi seantero isii masjid sesuai dengan namanya “Madina Al Munawwarah”, yaitu kota yang bercahaya. Di dinding-dinding dan  tiang-tiang masjid bertuliskan indahnya Asmaul husna dan rangkaian ayat-ayat Quran. Payung payung raksasa sebagaimana yang biasa saya lihat lewat tv parabola di rumah, sekarang bisa saya saksikan sendiri, berdiri gagah di depan mata kepala saya. Jumlahnya ratusan dan satu sama lain mekar saling berdekatan. Bahkan payung-payung raksasa itu disetting kapan mereka kuncup dan kapan waktu membentang.  Seperti ribuan jamur raksasa memenuhi masjid.  Rasanya saya bagai sedang berjalan di dalam mimpi, hampir-hampir saya tidak percaya bahwa saya diizinkan Allah SWT memasuki tempat 1000 pahala. Mungkin agak sedikit ‘lebay’, tapi saya diam-diam mencubit kulit tangan saya sendiri untuk memastikan bahwa saya tidak sedang bermimpi. 
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda:
صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ
“Shalat di masjidku ini lebih baik daripada 1000 shalat di tempat lain, kecuali di Masjid Al-Haram.” (HR. Muslim no. 1394).







           Masjid Nabawi adalah masjid terindah yang pernah saya masuki seumur hidup ini.  Karena untuk pertama kalinya kami tiba di masjid, itupun  pada dini hari buta, beberapa petugas kebersihan nampak di sekitar pelataran masjid. Pemandangan yang lebih mengagumkan adalah alat yang mereka gunakan untuk membersihkan lantai bukan sekedar alat pel sederhana, tapi berupa kendaraan seperti mobil golf yang dibawahnya terdapat kain dan sikat untuk menyikat dan membersihkan lantai dengan efisien dan cepat. Benar-benar mengagumkan. Pelataran Masjid nabawi yang begitu lebar dan langit malam yang mesih gelap membuat  seolah masjid ini tak memiliki ujung. Udara dingin di kota Madinah menyambut kedatangan kami, mengembuskan udara  musim dingin kedalam  tulang-tulang sumsum. Alhamdulillah kami memang sudah bersiap-siap dari tanah air untuk menghadapi terpaan musim dingin di Madinah dan Mekah. Suhu udara di applikasi ponsel menunjukkan  19 derajat celcius, ku rapatkan jaket sambil memeluk tas kecil berisi perlengkapan sholat. Pintu utara masjid  Nabawi semakin tampak dekat. Di salah satu pintu yang  ditutup berlapiskan warna keemasan dan berukirkan  nama Allah SWT  dan Muhammad SAW. Para jamaah shalat dari berbagai negara  dan kami berempat menuju pintu-pintu yang terbuka lebar. Setiap pintu di jaga sangat ketat  oleh beberapa petugas masjid yang  berpakaian dan bercadar serba hitam. Mereka melaksanakan tugas  dengan memeriksa isi kantong tas milik  setiap jamaah yang melewati pintu-pintu masjid. Setiap isi kantong tas dan kantong alas kaki diperiksa dan diraba. Kamera dilarang untuk di bawa masuk ke dalam masjid, tapi herannya, handphone boleh dibawa masuk padahal handphone atau smartphone.juga terdapat fungsi kamera. Celakanya, di dalam kantong tas saya ada handycam terbalut sajadah tebal.  Petugas-petugas perempuan itu bisa saja menolak saya masuk dengan handycam di dalam tas. Tangan-tangan perempuan itu meraba-raba isi dalam tas, lalu  menariknya lagi,  dan mempersilahkan saya masuk. Alhamdulillah, artinya handycam di dalam tas tidak ketahuan.  Tapi kawan satu kamar kami sempat ditolak masuk patugas karena digital cameranya tertangkap petugas wanita, terpaksa dia saya tarik keluar antrian masuk dan menyembunyikan kamera ke dalam tempat yang lebih dalam di dalam kantong tas. Saya pikir lebih baik begitu, dari pada kami harus kembali ke maktab hanya untuk meletakkan kamera. Alhamdulillah ibu itu akhirnya lolos pemeriksaan juga.
       Begitu memasuki masjid Nabawi, terhampar luas karpet-karpet indah berwarna merah tua. Ribuan pilar bergaya khas Nabawi berjejer di sepanjang ruangan seolah pintu-pintu pilar tersebut tiada berujung. Maka tidak lah heran, bahwa keindahan gaya arsitektur Masjid Nabawi sampai dibawa ke Turki hingga ke Masjid Cordoba yang ada di Spanyol.  Shaf shalat wanita di seberang pintu sudah penuh, maka kami mencari di shaf  agak kedepan. Kondisinya pun hampir sama, shaf sudah penuh. Terpaksa kami berempat menyelinap  di antara shaf orang-orang asing. Kebanyakan usia jamaah adalah 50 tahun ke atas, termasuk di depan kami jamaah wanita asal Indonesia yang sudah berumur.  Rak-rak berisi  Mushab Alquran  tersedia di setiap sudut dan tiang-tiang penyangga Masjid, membebaskan siapa saja yang ingin mengaji. Tips, saya untuk para calon jama’ah,  tidak perlu  repot-repot membawa mushab Alquran dari maktab, karena Mushab  sudah tersedia lengkap di dalam masjid. Kecuali kalau tidak kebagian shaf di dalam Masjid dan terpaksa mengharuskan anda mengambil shaf di pelataran Masjid, maka anda harus menyiapkan mushab sendiri. Selain itu, anda tidak perlu repot-repot membawa botol minum dari maktab, karena sama seperti Mushab Alqur’an, Pihak Masjid telah menyediakan galon-galon besar berisikan air zamzam  di dalam Masjid lengkap dengan cup minum. Bahkan di pelataran masjid, tersedia keran-keran  air zamzam dan cup minum untuk siapa saja yang membutuhkan minum, sehingga tidak perlu membawa botol  minum sendiri. Para jama’ah juga bebas membawa air zamzam ke dalam botol untuk di bawa pulang ke maktab. 
      Tips lainnya, sebaiknya tidak membawa tas besar, apalagi kantong belanjaan ke dalam masjid, karena pasti anda akan dilarang masuk oleh petugas.  Apabila anda membawa kantong besar belanjaan, sebaiknya bawa pulang belanjaan anda terlebih dahulu ke  maktab masing-masing, baru setelahnya kembali ke Masjid. 
Pilar-pilar masjid Nabawi 


Di antara pilar-pilar yang cantik
Kran air zamzam di pelataran masjid Nabawi

          Masjid Nabawi bukan hanya masjid yang menonjolkan keindahannya, tapi juga tekhnologi yang tinggi. Contohnya seperti Kubah dan payung di pelataran.  Kubah yang tampak menawan dari luar tidak hanya memiliki fungsi sebagai keindahan. Kubah itu ternyata berfungsi juga sebagai pengatur sirkulasi udara di dalam Masjid.  Pada jam-jam tertentu, beberapa kubah akan terbuka beberapa saat secara otomatis, kemudian akan menutup kembali. Buka dan tutup kubah tersebut menjadi perhatian dan daya tarik tersendiri bagi para jama’ah yang berada hanya di dalam Masjid. Begitu Kubah tiba-tiba terbuka perlahan, suara gemuruh tanda kagum dari para jamaah terdengar pelan.  Saya pun baru tahu ada pemandangan menarik melihat terbukanya kubah tersebut  pada hari terakhir berada di Madinah. Selain berfungsi sebagai keindahan, buka-tutup puluhan payung raksasa yang berada di pelataran berfungsi sebagai pelindung dari panas dan cuaca bagi para jama’ah yang berada di pelataran, Sebagian batang tubuh payung tersebut dipasang AC yang secara otomatis pula memancarkan hawa dingin pada musing panas. Tidak bosan-bosannya kami berfoto selfie di antara payung-payung yang sedang mekar di setiap sudut dan bagian pelataran. Seolah di setiap sudut dan bagian pelataran memiliki fokus pemandangan yang berbeda, padahal model payungnya ya sama saja. 


Payung Raksasa  Masjid Nabawi

Payung Raksasa  Masjid Nabawi

Mejeng di antara Payung Raksasa  Masjid Nabawi

Payung Raksasa  Masjid Nabawi


           Untuk mengambil wudhu atau buang hajat ketika sedang berada di Masjid Nabawi, sedikitnya ada 14 tempat atau posisi toilet di pelataran Masjid menyebar di depan 24 pintu bagian Masjid. Ada petunjuk dan gambar yang  jelas, antara Toilet wanita dan toilet pria. Toilet di bangun di ground floor supaya tidak mengganggu pemandangan dan menyebarkan bau. Ada tangga dan eskalator untuk menuju toilet ground floor 1 dan ground floor 2, serasa bagai mau pergi ke pertokoan saja.  Toiletnya sangat bersih dan selalu ada petugas kebersihan yang berjaga di sana, sehingga para jama’ah merasa nyaman saat menggunakannya.
         Jika sebelum Azan, kita masih berada di maktab, maka jangan harap bisa mendapatkan shaf di dalam Masjid, terpaksa harus menjadi bagian shaf di pelataran yang sangat sejuk disertai angin yang kencang ketika musim dingin. Maka, saran saya jika anda berencana umrah di bulan Desember sampai April, sebaiknya persiapkan jaket yang tebal untuk dikenakan.          
(Bersambung di  Perjalanan spiritual: Rafidhah/ Makam Nabi)

Jumat, 30 Januari 2015

Perjalanan Spiritual, Bagian I ( Bandara King Abdul Azis)



        Alhamdulillah setelah menempuh perjalanan yang panjang menggunakan maskapai Lion Air dari bandara internasional Soekarno Hatta menuju Bandara King Abdul Aziz, Saudi Arabia, akhirnya kaki ini bisa berpijak di  tanah  yang dimuliakan oleh berjuta umat Islam di dunia.  Namun sebelum benar-benar menginjakkan kaki-kaki ini,  kami sebagai jema'ah Umrah harus menjalankan serangkaian pemeriksaan paspor di loket imigrasi bandara King Abdul Azis. Terlebih dahulu sebelum memasuki loket-loket keimigrasian tersebut, begitu senangnya kami karna di pintu kedatangan kami  sudah di sambut meriah oleh para penjual kartu prepaid telpon dan internet. Saya yang notabene seorang yang susah berpisah dari gadged dan internet, sudah merasakan kegalauan yang luar bisa ingin menikmati internet yang memanjakan sejak terhentikannya layanan internet selama.berada di dalam pesawat. Karena beberapa penjual kartu prepaid komunikasi tersebut adalah warga Indonesia, maka mudah bagi saya untuk mulai bertanya sana- sini mengenai keunggulan product tersebut. 
Sesaat sebelum take off ke Soekarno Hatta
         Ketika sedang asik bertransaksi kepada salah satu orang Indonesia yang menjual kartu tersebut di ruang tunggu keimigrasian, sekonyong-konyong  datang  beberapa petugas bandara yang mengenakan seragam paramedis warna biru. Maka sinyal  bahaya pun mulai tertangkap  lewat  antena kasat mata yang menancap  di atas kepala saya.   Maka beginilah akibatnya jika prosudur umrah kurang lengkap. Empat  orang jema'ah asal Lampung termasuk saya dan keluarga saya yang bergabung dengan kelompok jama'ah asal Palembang berada pada zona yang sangat berbahaya. Benar sekali, kami berempat tidak memiliki kelengkapan kartu miningitis sebagai tanda bukti telah menerima  vaksin miningitis. Kabarnya bahwa vaksin tersebut  sangat diwajibkan bagi semua jema'ah Haji dan Umrah. Sebenarnya bukannya kami tidak menjalankan vaksin minigitis tersebut, kami sudah menerima vaksin tersebut kira-kira kurang dari 2 tahun yang lalu ketika hendak menjalankan umrah pertama yang gagal. Lepas dari manfaat dan perdebatan tentang kehalalan vaksin tersebut, kami sekeluarga memang memutuskan untuk menolak  pemberian  vaksin miningitis karena vaksin minIngitis bisa bertahan di tubuh selama 2 tahun kurang dan lebih. Alhamdulillah, berkat kasih sayang dan perlindungan dari Allah SWT, kami berempat bebas dari intimidasi para petugas medis yang berjanggut lebat dan berbadan bongsor tersebut setelah agak lama bermain kucing-kucingan dengan mereka, dibantu dengan kemampuan bahasa tarzan yang kami kuasai sebelumnya. Entah bagai mana warna muka kami waktu itu antara kekalutan jika tidak bisa masuk ke antrian loket imigrasi.
         Perjuangan babak ke dua dilanjutkan di ruang imigrasi yang memiliki beberapa loket antrian. Masing masing loket dijaga oleh petugas-petugas imigrasi yang mengenakan pakaian khas orang Arab lengkap dengan kafiyah yang menghiasi kepala  mereka. Di tempat itu, suara-suara asing mulai cetar membahana dari mulut-mulut mereka dengan kesan yang sedikit kasar bagi telinga saya. Entahlah apa tepatnya nada suara tersebut, tapi sangat jauh sekali perbedaannya dibandingkan dengan para petugas imigrasi di Jepang yang dikenal sangan ramah dan sopan. Ketidakpahaman dari arti ucapan mereka bagi yang lemah berbahasa Arab seperti saya adalah suatu kewajaran, tapi seperti  yang telah disebutkan tadi, karena telah menguasai bahasa tarzan, maka saya paham mereka memberi Instruksi kepada para calon jama'ah supaya merapatkan antrean dan mulai maju mendekati masing-masing loket.  Kami termasuk kelompok jem'aah pertama yang memasuki kantor imigrasi sehingga kami bisa membuat barisan antrian terdepan di masing-masing loket. Petugas loket imigrasi tempat saya berdiri antri adalah seorang Arab berkulit gelap, memakai pakaian tradisional Arab yang sama. Doa-doa pun  saya panjatkan semoga Allah SWT menolong saya supaya mudah untuk lolos dalam pemeriksaan Paspor saya dan keluarga. Saat itu jantung ini seperti mau copot, antara persaan berserah diri dan memohon kepada Allah sang maha penolong. Niat saya hanya satu, supaya Allah benar-benar mengizinkan saya menginjakkan kaki di tanah suci Mekah dan menjalankan ibadah umrah dengan khusuk. Ketika giliran saya tiba, petugas itu agak lama mengamati saya, terlihat  berkali-kali ia membandingkan wajah saya dengan foto di pasport. Mungkin  dia heran, kenapa wajah perempuan Indonesia di hadapannya saat itu berbeda dengan yang tercantum di pasport. Sedikit menaruh curiga juga  sih, jangan-jangan, wajah asli saya jauh lebih mempesona dari yang di pasport, hehehehhehe. Petugas itu berlagak menggunakan bahasa Indonesia dengan aksen yang aneh ketika menanyakan nama dan asal saya sambil berkali-kali mengamati wajah saya dan paspor di tangannya. Akhirnya sambil senyum-senyum tidak jelas, dia terlihat memberikan stampel di paspor saya dan mengembalikannya kepada saya. Alhamdulillah ya Allah, Engkau loloskan hamba dari imigrasi meskipun tanpa surat keterangan vaksin miningitis!. Saya cepat mengambil paspor dan mengucapkan “Syukron” (terimakasih) kepada petugas itu, lalu bergegas keluar dari muka loket dengan hati puas. Sekarang tinggal menunggu nasib paspor ibu dan adik perempuan saya dengan tak hentinya berdoa. Tak lama dari saya, Alhamdulillah keluarga saya dan 1 orang jama'ah dari Lampung mendapatkan kemudahan yang sama.  Rasa syukur dan lega membuat saya seperti mau terbang dan cepat-cepat ingin meninggalkan bandara tersebut.
        Setelah semua anggota jama'ah kelompok kami lolos dan berkumpul, lalu menemukan kejelasan koper masing-masing, kami masih harus menunggu hingga 2 jam lagi hingga dapat melanjutkan perjalanan ke kota Madinah dengan bus. Suasana Lobi  kedatangan Bandara King Abdul Azis sangat gersang dan  dipenuhi debu pasir yang berterbangan, kadang tercium aroma seperti fogging  yang entah dari mana datangnya. 

Ekspresi setelah lolos dari imigrasi

Kamis, 04 September 2014

Menjadi Pribadi yang Bermanfaat


    Setiap hari orang  Jepang harus bekerja selama 7 hingga 8 jam, dari pukul 9 pagi hingga pukul 5 sore, dari hari Senin sampai hari Jumat.  Pada kenyataannya, lamanya 8 jam kerja tersebut belum termasuk jam lembur. Bila diamati, 8 jam kerja dalam sehari di Jepang sama dengan besarnya jumlah jam kerja di Indonesia, khususnya staff kantor swasta dan staff PNS. Bedanya, bila di Jepang, seseorang merasa sungkan  bila meninggalkan tempat kerja paling awal daripada rekan-rekan kerja lainnya, meskipun jam  kerja pada saat itu sudah selesai.  Sehingga mereka akan menahan diri untuk meninggalkan tempat kerja lebih awal dari rekan atau atasan mereka. Sifat tenggang rasa dan “pekewoh” dalam diri mereka menimbukan sifat rasa malu untuk berbeda dari yang lain. Dengan tidak meninggalkan tempat kerja lebih awal, mereka dengan “legowo” meneruskan pekerjaan mereka, atau membantu rekan kerja mereka hingga sebagian besar karyawan menyelesaikan tugas masing-masing. Setelah bersama-sama menyelesaikan tugas di meja kerja, lantas mereka tidak langsung pulang dan beristirahat di rumah. Ada kalanya  mereka  melakukan sosialisasi dengan sesama rekan kerja atau kolega untuk saling  mengenal satu sama lain setelah seharian atau sepanjang minggu bersikap kaku berkutat di lingkungan kerja. Karena di Jepang menganut prinsip sikap  profesional dalam bekerja. Artinya, bahwa ketika bekerja, curahkan seluruh pikiran dan tenaga untuk pekerjaan, dan menghindari hal-hal yang tidak berguna, seperti bergosip, atau bahkan sekedar untuk membaca koran.

       Batas akhir usia bekerja rata-rata 55 tahun dan 60 tahun, kurang lebih sama dengan di Indonesia. Setelah mereka pensiun dari pekerjaan lama, tidak lantas mereka hanya berdiam diri di rumah menikmati hari tua. Meskipun setiap bulan mereka rutin menerima uang pensiun dari pemerintah bagi PNS atau dari asuransi pensiun yang mereka bayar rutin selama masa muda mereka, ternyata tidak sedikit dari lansia di atas usia 60 tahun tetap  meneruskan untuk bekerja. Tentunya jenis pekerjaan lanjutan itu bukan merupakan pekerjaan tetap. Pada umumnya pekerjaan yang mereka lakukan adalah pekerjaan paruh waktu atau honor. Jenis pekerjaan paruh waktu tersebut bisa di bidang apa saja, asal tidak berhubungan dengan 3 K , yakni : Kitsui (Pekerjaan yang berat, melelahkan, menyengsarakan), Kitanai (seperti pekerjaan kotor mafia, kriminal), dan kiken ( berbahaya, besar resikonya).   Selama  tidak menyangkut 3 K tersebut, para lansia Jepang merasa tidak malu untuk melanjutkan kerja paruh waktu, seperti pelayan resoran atau toko, sampai Cleaning Service. Mereka tidak sungkan untuk melakukan pekerjaan tersebut meski dulu mereka adalah seorang karyawan kantor.  Prinsip mereka dalam bekerja adalah, supaya sisa usia mereka dapat bermanfaat sebaik-baiknya. Bahkan tentunya mereka masih bisa mengumpulkan uang dari jerih payah mereka. Selain itu bekerja bukan semata untuk memperoleh materi, tapi terdapat kepuasan batin ketika  merasakan diri mereka masih bermanfaat, juga selain dapat bergabung di komunitas sosial yang baru. Mereka terlihat tetap  ingin mandiri walau telah memasuki usia pensiun. Ketika saya sedang berbelanja di supermarket atau sekedar jalan-jalan cuci mata di pusat perbelanjaan dan mall, pemandangan di mana nenek-nenek usia 70-an sedang berjalan sendiri sambil menarik tas  belanja dorong mereka tidak sedikit dijumpai. Nenek-nenek atau kakek-kakek yang menggendong ransel belanja tanpa didampingi keluarga adalah pemandangan yang umum di sana. Ada kesan bahwa mereka  masih mampu sendiri dan tidak mau merepotkan keluarga.

  Data statistik tahun 2012 yang dikumpulkanmelalui Kementrian Kesejahteraan  dan Sosial Jepang menunjukkan  bahwa usia harapan hidup di Jepang  menduduki peringkat nomor 1 di dunia. Rata-rata usia harapan hidup di Jepang antara 79, 94 tahun bagi laki-laki, dan 86, 41 tahun bagi perempuan. Maka usia 60 tahun sebenarnya bagi mereka bukanlah usian yang dianggap terlalu tua, sebagai manusia lemah dan patut dikasihani.  Mereka merasa usia 60 tahun adalah usia di mana segala sesuatu diawali lagi, menemukan hal-hal baru. Bagi mereka yang tidak ingin bekerja lagi setelah memasuki usia 60 tahun, mereka bergabung sebagai  sukarelawan dalam bidang sosial dan pendidikan. Suatu hari Saya pernah mendengar cerita yang sangat menarik, bahwa di suatu sudut kota ada seorang nenek berusia sangat tua. Setiap hari ia hanya berdiri di  bawah lampu rambu-rambu lalu lintas. Entah apa yang ia kerjakan hanya dengan berdiri di sana. Ternyata setelah diselidik, ia hanya ingin merasa dirinya bermanfaat bagi orang lain meski sebatas mampu berdiri seharian di sudut lampu rambu lalu lintas!. Betapa orang Jepang ingin merasa dirinya dapat melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, meski hanya dilirik dan dilalui orang.  Sejujurnya saya sedikit menyangsikan kebenaran cerita tersebut, karena saya tidak pernah bertemu dengan orang yang dibicarakan itu secara langsung. kabarnya, banyak dari sukarelawan berani mati yang mendedikasikan diri mereka untuk turut berusaha menghentikan kebocoran reaktor nuklir Fukusima akibat gempa dan tsunami yang melanda prefektur Fukushima tahun 2010 adalah para lansia yakni kakek-kakek. Mereka dengan berani mengorbankan nyawa terkena resiko terpapar bahaya radiasi nuklir demi menyelamatkan Jepang saat itu. Setelah terlebih dahulu berpamitan kepada keluarga. Kisah lengkap tentang sikap heroik mereka lebih mengharukan lagi.

     Beberapa hari sebelum kepulangan saya ke tanah air, ketika saya sedang menyusuri  jalan sekitar  kampus,  secara kebetulan saya melihat seorang nenek renta, mungkin usianya sekitar 90-an. Ia berjalan dengan sebilah tongkat. Tampak sekali ia sudah kepayahan untuk berjalan karena sudah bungkuk.  Saya amati dari kejauhan perilakunya yang berjalan bungkuk dengan tongkat tuanya dengan sesekali duduk berjongkok. Awalnya saya berpikir bahwa ia sedang berjalan-jalan menikmati udara sore yang segar, merasa lelah setelah beberapa langkah berjalan, lalu duduk berjongkok. Karena terbawa rasa penasaran, lalu saya dan teman saya berjalan agak cepat mendekat nenek renta tersebut yang berdiri di seberang kami berdua di tepi pagar kampus. Ternyata pemandangan yang menyentuh kalbu ditemui di sana. Nenek renta tersebut tidak semata-mata hanya berjalan-jalan menghirup udara segar di sore hari itu, tapi ia tengah berusaha membuat dirinya bermanfaat bagi lingkungan sekitar.  Hal yang ia lakukan adalah sekedar mencabuti rumput-rumput liar yang tumbuh di tepian pagar kampus!.  Rasa kagum saya kepada nenek renta tersebut tidak mengalahkan rasa hormat saya kepada beliau. Meskipun apan yang dilakukannya bila dipandang sepele sebelah mata dan  terasa tidak berarti, karena   area kampus tersebut sangatlah luas dengan dikelilingi pagar. Maka di sepanjang pagar kampus itu, rumput liar kering tumbuh dengan leluasa. Namun nenek renta tersebut telah membuktikan bahwa dirinya yang renta dengan jalan terseok mampu membuktikan bahwa dirinya masih terlihat bugar dan berguna meskipun sebatas hanya mencabuti rumput liar yang kering satu-persatu, meskipun rasanya tidak mungkin bahwa nenek tersebut mampu mencabuti seluruh rumput liar kering yang tumbuh di seluruh pinggiran pagar kampus yang luas itu. Dari apa yang saya lihat, saya  telah membuktikan dengan mata kepala sendiri bahwa betapa orang  Jepang ingin di sepanjang hidupnya melakukan hal-hal yang berguna. Bukan memposisikan dirinya sebagai lansia lemah yang hanya bisa berbaring di rumah.


Seorang nenek yang saya lihat  di pinggir pagar kampus Akita

     Secara mayoritas,  orang Jepang bukan muslim. Namun justru mereka telah mengamalkan nilai-nilai Islam tanpa mengenal Islam itu sendiri. Padahal Rasulullah Shalallahu’Alaihi Wasallam  di dalam hadistnya, salah satu syarat untuk menjadi manusia yang baik di  antara manusia lainnya adalah dengan menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya:

Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.”
(HR. Ahmad, Thabrani, Daruqutni.disahihkan Al Bani dalam As-Silsilah As-Sahihah)


Sekarang, di sisa usia kita, maanfaat apa yang telah kita bawa untuk keluarga, negara dan agama?
Sudah banggakah kita dengan sekelumit hal yang dilakukan selama ini?
Mari berintropeksi.

 

Sabtu, 16 Agustus 2014

Berislam di Jepang



       Apakah agama di Jepang? Adakah ada orang Jepang yang beragama Islam? . Dua pertanyaan tersebut sering sekali keluar dari masyarakat yang masih awam tentang Jepang.
        Sebagian Besar penduduk Jepang adalah beragama Shinto atau Budha, bukan konghuchu atau hindu. Namun Meski mereka beragama Shinto atau Budha, Masyarakat Jepang lebih memandang bahwa Agama lebih dekat pada budaya dan tradisi. Sehingga ketika perayaan Natal  tiba, mereka turut serta memeriahkannya meski tidak mengunjungi gereja pada malam misa.  Perayaan-perayaan  Kristen meski diterima baik oleh masyarakat Jepang, mereka serta-merta tidak lantas memeluk agama Kristen. Sehingga, bagi mereka agama adalah suatu budaya, bukan sebagai pedoman hidup. Setelah Perang dunia II, bermunculan trend di mana semakin banyak pemuda-pemudi Jepang yang melangsungkan  pernikahan di Gereja dengan tata cara Kristen, namun ketika mereka meniggal, Jasad  mereka diupacarakan menurut tata cara agama Budha sesuai wasiat.
        Bagai mana Islam di Jepang? Apakah Islam adalah agama yang populer seperti Kristen di Jepang?.  Islam merupakan agama baru yang masuk ke Jepang. Islam tidak populer. Hal tersebut dikarenakan Islam sendiri tidak mengenal perayaan-perayaan, pesta-pesta, ritual-ritual seperti pada agama lain. Bahkan tidak sedikit masyarakat Jepang yang sama sekali buta dengan Islam. Apa itu Islam?, apa itu Masjid?  Mengapa perempuan harus membungkus kepala dan seluruh tubuhnya?.
       Hanya ada sedikit sekali catatan yang merekam sejarah masuknya Islam di Jepang. Awal mula Agama Islam masuk ke Jepang  diperkirakan  bersamaan dengan masuknya Agama Kristen sekitar tahun 1877 pada zaman  Restorai Meiji.
        Pada tahun 1890 terjadi peristiwa karamnya kapal Ertugrul milik kerajaan Ottoman Turki di perairan Jepang yang mengakibatkan korban tewas dalam jumlah yang sangat besar. Penduduk Jepang menolong para korban yang selamat dan mengadakan upacara pengormatan arwah yang meninggal. Kemudian para korban selamat dipulangkan ke turki berkat bantuan Pemerintah dan warga Jepang saat itu, Sehingga peristiwa karamnya kapal Ertugrul tersebut menjadi tonggak hubungan Jepang-Turki, khususnya kontak Islam. Pada tahun 1955 ulama-ulama dari Pakistan datang ke Jepang untuk menyi’arkan Islam sehingga Islam lebih dikenal luas. Tercatat pada tahun 1905 bahwa orang Jepang yang pertamakali memeluk Islam adalah Mitsutaro takaoka, kemudian ia mengganti namanya menjadi Omar Yamaoka, sekaligus oarang Jepang pertama yang pergi berhajji. Namun ada pendapat lain yang mengatakan bahwa Torajiro Yamada merupakan orang Jepang pertamayang memeluk Islam sekembalinya dari Turkii.
          Pada tahun 1935 tercatat sebagai sejarah Masjid pertama yang didirikan di Jepang, tepatnya di kota Kobe. Kemudian Masjid di Tokyo pada tahun 1938. Lantas, berapakah jumlah masjid yang ada di Jepang?.  Baru ditemukan  60 Mesjid yang tersebar di seantero Jepang!  Dan insya Allah akan terus berkembang.  Berbicara mengenai tampilan masjid di Jepang, jangan bayangkan seperti masjid-masjid kokoh yang ada di Indonesia, Kubah besar lengkap dengan corong pengeras suara atau seuah bedug. Di Jepang, bangunan masjid didirikan berkat iuran rutin warga muslim dan ikatan muslim setempat. Mereka menyewa suatu ruangan atau gedung di perkantoran  kemudian menyulapnya menjadi Mushola atau Masjid kecil, tanpa hiasan kubah atau corong pengeras suara seperti yang pernah saya jumpai di kawasan sibuk Sibuya. Karena untuk menghindari kebisingan suara yang dikhawatirkan akan mengundang protes dari penduduk sekitar, maka suara Azan dan bacaan sholat serta bacaan alquran, ceramah lainnya tidak boleh menggunakan pengeras, demikian peraturan dari Pemerintah Jepang.  Namun bukan berarti tidak ada bangunan Masjid yang megah di Jepang. Tokyo Cami merupakan salah satu masjid megah yang bisa ditemui. Tentunya sulit menemukan Masjid di Jepang, terutama daerah-daerah yang bukan kota besar seperti tokyo.  Ketika Ramadan dan 1 Syawal berlangsung pada musim Gugur dan musim dingin, warga Indonesia yang tinggal di Prefektur Chiba harus berjuang berangkat menuju SRIT (Sekolah Republik Indonesia Tokyo yang berada di Meguro dekat dari Kedutaan besar RI) sebelum pukul 5 Pagi dengan Kereta Express untuk melaksanakan Sholat Iedul fitr atau Iedul Adha. Karena Hari besar islam tidak dikenal di Jepang, maka apabila 2 hari besar tersebut tidak jatuh pada hari sabtu atau minggu, banyak warga Indonesia, khususnya pekerja dan Pelajar tidak bisa melaksanakannya karena harus mengikuti kuliah atau bekerja. Kecuali bila mereka meminta dan diberi izin khusus dari kampus atau tempat bekerja. Barulah mereka bisa berangkat ke Masjid, bukan kelapangan seperti di Indonesia atau negara-negara Islam.
Muslim dan muslimah yang berada di Kampus terpaksa menunaikan kewajiban sholat 5 waktu dengan mencari ruang-ruang kelas yang kosong. Bagi  Muslim yang berkewajiban menunaikan sholat Jum’at harus mendaftarkan  ruang di kampus untuk digunakan sholat Jum’at setiap minggunya. Sedangkan di luar ruang tempat diselenggarakan sholat Jum’at tersebut, para mahasiswa Jepang atau asing yang bukan muslim sudah bersiap mengantri untuk menggunakan ruang tersebut. Pemandangan yang sangat menarik.



Masjod Otsuka, Tokyo

Masjid Asakusa, Tokyo

Masjid Tokyo Camii






 
Masjid tertua, Kobe, Jepang


       Belum ada angka akurat yang bisa memberikan data jumlah populasi Muslim di Jepang dengan pasti. Namun dari beberapa sumber, tercatat bahwa populasi muslim baru kira-kira 0,095 % dari total populasi Jepang. Menurut perkiraan dari Islamic Center Jepang menyebutkan jumlah penduduk muslim di negara tersebut adalah sekitar  200.000 orang. Sebagian besar dari mereka berkewarganegaraan dari Turki, negara Arab, India, Pakistan dan asia tenggara dan dengan profesi beragam, namun umumnya adalah pelajar, pekerja magang, bisnis dan staf kedutaan. Yang menarik, jumlah terbesar justru berasal dari Indonesia yaitu sekitar sekitar 20.000 orang. Dan belum ada data akurat mengenai jumlah penduduk Jepang yang beragama Islam.
        Tinggal di Jepang yang merupakan negara dengan tingkat toleransi beragama yang cukup tinggi bukan berarti tidak menemukan permasalahan.  Sangat sedikitnya restoran atau toko makanan  halal menjadikan kendala yang unik. Muslim harus ekstra berhati-hati dalam memilih makanan halal. Pengalaman mengajarkan  bahwa butuh kesabaran untuk mendapatkan daging halal yang dibeli di toko halal sehingga pada akhirnya bisa menyantap daging. Mendapatkan daging halal jadi merupakan barang yang agak langka dan agak mahal.  Meski demikian, seafood yang notabene tergolong halal food sangat mudah ditemukan di setiap super market dengan harga yang relatif terjangkau.
       Para muslimah bebas mengenakan hijab di Jepang tanpa harus merasa waswas dimusuhi dan diinterogasi, meskipun ada beberapa orang  Jepang yang melirik. Mungkin Hijaber adalah mahluk yang aneh bagi mereka. Tapi tidak jarang pula ketika tengah berada di dalam kereta ada beberapa warga yang tamah mendekat dan penasaran bertanya-tanya tentang hijab.
      Sungguh, ketika kita berada di suatu tempat, daerah, negara dimana Islam merupakan minoritas, keimanan kita sebagai muslim benar-benar diuji. Semoga Ikhlas.

Lampu Penjor Riwayatmu Kini

Menyambut hari kemerdekaan RI yang jatuh pada17 Agustus, setiap tahunnya masyarakat berbondong-bondong sibuk menyiapkan pernak-pernik kemeriahan di sekitar tempat tinggal mereka. Kemerdekaan RI sepertinya tidak hanya dikaitkan dengan makna sesungguhnya, yaitu mengenang jasa-jasa pahlawan baik yang telah gugur di medan perang maupun yang masih veteran. Tapi hari kemerdekaan RI seakan menjadi hari diterapkannya gotong-royong dan kebersamaan warga. Hal itu dapat dirasakan dari semangat yang ditunjukkan warga dengan berkumpul dan mengadakan berbagai kemeriahan lomba atau acara untuk mempertemukan seluruh warga di setiap tempat administratif. Seperti warga se-RT, warga se-RW, sekelurahan sampai pada sekecamatan. Atau sesama rekan kerja di suatu persyarikatan usaha, seperti kantor dan pabrik. Uniknya dari semua ini adalah perlombaan dan acara tersebut dilangsungkan hanya 1 tahun sekali dan serempak dihari yang sama.Isi dari perlombaan dan acara bisa apa saja. Contohnya dari jenis lomba yang terClassic: panjat pinang, makan kerupuk, lari kelereng, tarik tambang, hingga jenis lomba yang terbilang masih  terbaru: pukul-pukulan dengan guling di atas sungai. Saya masih ingat semasa kecil, lomba yang paling ditunggu dan diminati adalah lomba makan kerupuk. Alasannya sedikit klise dan polos, karena cuma lomba makan kerupuklah yang paling gampang tantangannya (maksudnya nyaris tanpa tantangan), sekalipun jadi yang kalah, toh sudah bisa puas dengan makan kerupuk gratis. Hehehe.

Selain mempersiapkan aneka lomba dan acara, seluruh warga antusias menghiasi lingkungan tempat tinggal dengan bendera merah putih,  umbul-umbul( bendera berwarna-warni, saya masih heran kenapa harus dinamakan umbul2. Mungkinkah karena itu diambil dari kata umbul yang artinya adalah kampung? Tolong abaikan). Selain bendera, jalanan juga dihiasi dengan kertas minyak warna merah dan putih yang digunting segitiga, lalu ditempelkan berjajar di benang kasur. Benang kasur yang telah rapi ditempel bendera kertas merah putih tersebut Kemudian dipasang saling menyilang di sepanjang jalan.



Tidak hanya ornamen bendera merah putih dan umbul-umbul yang telah disebutkan di atas, ornamen yang tidak kalah heboh juga turut memeriahkan semangat 17 Agustus atau yang sering disebut "Agustusan". Salahnya adalah Ilmuminasi. Ya, iluminasi atau hiasan lampu turut menerangi bulan Agustus. Ternyata iluminasi tidak hanya meriah di Jepang (baca ulasan Iluminasi di blog saya sebelumnya: Pulang Kampung ke Chiba Bagian 2; Doitsu Mura, Iluminasi), tetapi sudah dari dulu iluminasi dikenal di Indonesia, bahkan di kota-kota kecil dan pedasaan yang telah teraliri listrik dengan baik. Meskipun telah mengenal iluminasi sejak dulu, tapi jangan dibandingkan dengan kemegaahan iluminasi di Jepang.
Salah satu illuminasi di Jepang

Ketika masa kanak-kanak saya, yakni di era 90-an. Iluminasi di acara Agustusan dikenal dengan istilah"Lampu Penjor". Kata penjor sendiri nerasal dari istilah ritual agama Hindu di Bali yakni batang bambu yang ujungnya melengkung dan dihiasi dengan daun kelapa mirip dengan janur kuning pengantin. Penjor di Bali memiliki makna sebagai wujud syukur akan anugerah yang telah dilimpahkan oleh sang Pencipta. Lucunya, warga kampung saya memiliki persepsi sendiri tentang arti penjor secara harfiah. Menurut warga sekitar tempat tinggal saya, Penjor berasal dari gabungan 2 kata, yakni: Pring selonjor. Pring adalah asal kata bahasa Jawa yaitu 'bambu' dan selonjor masih dari bahasa Jawa yang artinya 'lurus'. Berbicara mengenai material, sesuai dengan artinya yaitu pring (bambu), maka lampu penjor dibuat dari batang bambu yang telah dibersihkan dari daunnya. Batang bambu yang telah bersih tersebut dari ujung sampai pangkal dipasang  lampu bohlam aneka warna ukuran sedang. Pada umumnya setiap rumah hanya memasang satu batang rangkaian lampu penjor. Setelah lampu penjor tersebut telah siap, lampu tersebut ditegakkan didepan rumah masing-masing dan dihadapkan ke tengah jalan dengan dialiri listrik. Rumah warga yang saling  berhadapan dan memasang lampu penjor akan mendapati masing-masing penjor mereka saling bertautan di atas jalan raya. Sehingga deretan lampu penjor yang saling melengkung bertautan disetiap rumah akan terlihat seperti sebuab terowongan lampu, persis seperti iluminasi di Jepang masa kini. Sangat cantik dilihat dari kejauhan. Seperti hendak memasuki terowongan bintang. Masih ingat di jelas di memori saya, kala itu bapak mengajak saya, kakak, adik, dan tetangga berkeliling kota dengan mobil bututnya untuk menikmati lampu penjor di waktu malam. Yang menarik dari lampu penjor adalah ternyata di setiap jalan yang kami telisuri, didapati bahwa hiasan lampu penjor mereka memliki keindahan dan kekhasan masing-masing, dari hiasan penjor yang dirangkai dengan lampu-lampu berukuran lebih kecil hingga lampu bohlam aneka warna ukuran sedang. Semua hiasan penjor tersebut sayangnya hanya bisa dinikmati selama menjelang 17 Agustus dan beberapa hari setelahnya. Sayangnya seingat saya tradisi memasang lampu penjor yang gemerlap  hanya berlangsung 3 hingga 4 kali 17 Agustus. 

Seriring dengan mahalnya tarif listrik yang dirasakan oleh warga selama konsumsi listrik oleh lampu penjor dan karena rasa bosan, maka tradisi memasang lampu penjor pun seperti digerus oleh zaman, sirna tanpa cerita. Gemerlap lampu penjor boleh saja redup, namun semangat kemerdekaan dan mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang positif jangan sampai ikut meredup. Dirgahayu Negriku ke-69 tahun.
Lampu Penjor
Meskipun dirangkai dengan sederhana, namun  terasa sudah paling hebat semasanya

Rabu, 09 April 2014

Ketika Rasa Ukhuwah Menembus Batas Negara

Sebelum kaki ini menginjak pertama kalinya di tanah Akita, tak pernah terbayangkan bahwa saya bisa mengenal dan membaur dengan berbagai jenis ras dan bangsa. Selama kurang lebih 7 bulan pertama saya menjalani hidup di kota Akita, yang saya rasakan hanyalah kegelisahan, rasa takut sendiri, selalu merasa kurang banyak memiliki teman di sekitar, baca juga blog saya berjudul  My First Experience in Akita. Seiring waktu berjalan, rasa-rasa perkawanan mulai tumbuh. Tumbuhnya rasa perkawanan di sini artinya bahwa dari mulai terdapat rasa saling membutuhkan satu sama lain, sapaan hangat, saling mengundang satu sama lain,  perhatian, sampai saling curhat. 
Tinggal di negeri asing jauh dari keluarga dan kerabat tentu tidak mudah. Siapa lagi yang bisa membantu kita Ketika musibah dan kesulitan menghampiri, seperti sakit dan lain-lain. Tentunya teman-teman atau tetangga terdekat lah yang bisa diandalkan untuk dimintai pertolongan. Rasa angkuh, tinggi hati,  merasa diri hebat atau merasa semua bisa diatasi dengan tangan sendiri hanya akan melukai diri di suatu waktu tanpa tahu kapan waktu sulit itu akan menyapa. Ketika tinggal di suatu daerah yang asing, kita tidak bisa hidup dengan mempertahankan keangkuhan diri.(hasil dari perenungan setelah melakukan pengamatan terhadap  beberapa prilaku orang-orang di sekitar). Maka sekali-kali TIDAK.
Dalam proses menjalin pertemanan yang erat, tentunya berbagai rintangan dan kesulitan mendera silih berganti.  kenyataannya bahwa tidak semua niat  baik akan selamanya berjalan mulus, lancar seperti gletser yang meluncur jatuh dari puncak gunung tepat ke anak-anak sungai. Semua harus dilalui dengan perjuangan yakni berusaha meyakinkan dengan menjadi pribadi yang menyenangkan sehingga bisa diterima, tentunya menjadi pribadi yang baik dan tak kalah pentingnya menjadi diri sendiri. Lalu secara aktif masuk ke komunitas mereka meskipun awalnya sangat sulit. Beberapa kesulitan yang saya rasakan selama itu antara lain karena kendala bahasa, aksen, budaya, dan kebiasaan. Rasa kecewa pun terkadang pernah dialamai tatkala ada kesan diabaikan atau kurang diterima.
No pain no gain, berakit-rakit ke hulu bersenang-senang kemudian. Alhamdulillah gayung bersambut seiring berjalannya waktu, doa dan usaha, keinginan agar bisa diterima dan bersahabat mendapat respon lebih dari dugaan. Bahkan nilai  persahabatan  tersebut telah tumbuh menjadi rasa persaudaraan, saling mendoakan dan saling bahu-membahu.  Bukan hanya acara kumpul makan-makan  di saat senang saja, di saat susah dan membutuhkan bantuan pun mereka dengan ikhlas mengulurkan bantuan.
Setelah 1, 5 tahun saya berada di Akita, seolah-olah garis batas kewarganegaraan menjadi samar. Indonesia, Malaysia, Afghanistan hanyalah embel-embel sebuah kartu identitas belaka. Ternyata rasa persaudaraan mampu menghapus garis-garis batas yang membelenggu ketika beberapa orang yang berlainan bangsa ingin hidup damai disertai rasa saling menyayangi. Secara hukum negara, identitas kami memang berbeda, namun mereka lah manusia-manusia berhati indah yang banyak membantu saya dengan keikhlasan selama menjalani 1,5 tahun lamanya merantau di negeri asing. Mereka juga lah yang meredakan tangisan sepi saya, mewarnai canda tawa manisnya arti persahabatan. Di mana pun mereka berada, seberapa pun jauhnya kami telah terpisah pulau bahkan benua, mereka adalah saudara dan saudari saya. Jazakallah Khairan Katsiran. Semoga Allah SWT yang maha penyayang senantiasa melindungi mereka dan membalas semua kebaikan-kebaikan mereka.